DEMI MASA : MENEMBUS RUANG dan WAKTU
NINDA ARGAFANI (12709251053)
PMat C Pasca Sarjana UNY
Sebelumnya
selamat kepada Prof. Marisigit atas amanah baru yang diberikan kepada beliau atas
pengabdian dan dedikasinya terhadap dunia pendidikan di Indonesia. Merupakan sebuah
insiparasi bagi saya dan teman-teman untuk dapat mengikuti jejak beliau
nantinya. Amin.
Refleksi
kali ini saya seperti mengalami kram otak. Ide-ide yang seharusnya bersahabat
dengan saya tiba-tiba berada diluar otak saya, hilang entah kemana. Pada kuliah
kali ini memberikan saya pengentahuan baru bahwa selama ini saya sudah menembus
ruang dan waktu tanpa saya sadari.
Setiap
detik dari hidup kita ternyata menembus ruang dan waktu, bahkan belum ada
sedetikpun kita berpaling, kita sudah melakukan aktifitas menembus ruang dan
waktu. Sebagai contoh secara material saya menembus ruang dan waktu yaitu pagi
itu saya terjatuh dan merasakan sakit. Secara formal saya menembus ruang dan
waktu adalah hari kamis tanggal 08-11-2012 pukul 13.00 saya begelar sebagai mahasiswa
filsafat. Saya menembus ruang dan waktu secara nomatif ketika saya berpikir,
dan saya dikatakan menembus ruang dan waktu secara spiritual ketika saya
melakukan sholat subuh sebelum fajar menyingsing di sudut kamar.
Hal ini
menyadarkan saya, bahwa setiap detik waktu kita begitu berharga dan bermakna. Saya
teringat Q.S. 103: 1 yang mengatakan bahwa “demi
masa”, Allah menggunakan masa (yaitu
yang meliputi ruang dan waktu) sebagai sumpahNya yang mengindikasikan bahwa masa
itu memang sangat berharga. Dalam ayat ke 2-3 disebutkan pula bahwa “sungguh, manusia berada dalam kerugian”,
Allah mengingatkan kita bahwa manusia itu akan sangat merugi jika tidak dapat
menggunakan waktunya dengan baik. “Kecuali
orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati
untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran”, Allah juga lebih
memperjelas lagi bahwa manusia itu merugi kecuali orang-orang yang dapat
memanfaatkan masanya, bahasa filsafatnya orang-orang yang sopan dengan ruang
dan waktu yaitu orang-orang yang beriman dan dapat memanfaatkan masanya untuk
berbuat kebajikan baik untuk kepentingan dunia dan akhirat (baik material,
formal, normatif dan spiritual), serta saling nasehat menasehati dalam hal
kebenaran dan kesabaran. Hal ini sudah mencakup keseluruhan, dapat diartikan
secara material bahwa saya senang jika dapat membantu orang lain, secara
formatif saya sebagai guru memberikan yang terbaik untuk murid-murid saya,
secara normatif saya memikirkan masa depan murid-murid saya jika saya tidak
bisa memberikan yang terbaik untuk mereka, dan secara spiritual saya merasa
merugi jika dalam mengakhirkan waktu shalat saya dan tidak dapat memberikan
contoh terbaik untuk murid-murid saya.
Penjelasan
ini seharusnya masih bisa di intensifkan, tetapi karena keterbatasan saya dalam
ilmu dan pengetahuan sehingga hanya ini yang dapat saya refleksikan. Mungkin untuk
teman-teman hal ini sepele, tetapi hal sepele ini sangat menyadarkan saya akan
pentingnya waktu dan bagaimana kita sopan terhadapnya sehingga kita bisa
melakukan yang terbaik pada setiap detik nafas kehidupan kita ini, dan
meminilaisir adanya rasa penyesalan karena sudah melewatkan sesuatu yang
berharga dengan kemudhorotan. Na’udzubillah.
(Sumber: Kuliah Filsafat, 08-11-2012 Ruang 304 Gedung Lama Pasca Sarjana UNY - oleh Prof. Marsigit)

0 comments:
Post a Comment