Refleksi III : Dr. Marsigit
SEJARAH FILSAFAT DARI HULU
KE HILIR
oleh NINDA ARGAFANI (12709251053)
PMat C Pasca Sarjana UNY
Saya mencoba menuliskan histori dari alur yang digambar oleh
Dr. Masigit dan sebagai Daftar Pustaka saya menggunakan Wikipedia Indonesia
maupun English.
Sejarah Filsafat dari Sayap Atas/Kanan (Thesis)
a.
Filsafat tetap (Parmenides)
Lahir
pada tahun 540 SM dan meninggal pada tahun 470 SM. Merupakan murid Xenophanes
tetapi pemikirannya sama sekali tidak dipengaruhi oleh gurunya. Parmenides
hanya meniru gaya puisi gurunya untuk menuangkan ide-ide filsafatnya. Cara
berfilsafat Parmenides dipengaruhi oleh Ameinias, seseorang dari Mahzab
Pythagorean.
Parmenides
terkenal dengan pemikirannya tentang “Yang Ada”. Inti “Jalan Kebenaran” adalah
“hanya ‘yang ada’ itu ada”. Yang ada itu segala sesuatu, tidak bergerak, tidak
berubah, dan tidak terhancurkan, tidak tergoyahkan dan tidak dapat disangkal.
Parmenides mendiskripsikan “yang ada” dengan segala sesuatu yang dapat
dikatakan dan dipikirkan.
Parmenides
membuka babak baru dalam sejarah filsafat Yunani. Parmenides dapat dikatakan
sebagai penemu metafisika, cabang ilmu yang menyelidiki “yang ada”. Pemikiran
Parmenides mempengaruhi Plato dan Aristoteles.
b.
Idealisme (Plato)
Plato
lahir sekitar tahun 427 SM dan meninggal pada tahun 347 SM. Merupakan seorang
filsuf dan matematikawan. Dan pendiri Akademik Platonik di Athena, sekolah
tingkat tinggi pertama di dunia. Pemikiran Plato banyak dipengaruhi oleh
Socrates gurunya. Dan mempengaruhi Aristoteles sebagai muridnya. Karyanya yang
paling terkenal adalah Republik, yang didalamnya berisi uraian garis besar
pandangannya mengenai keadaan “ideal”. Dia juga menulis “hukum” dalam bentuk
dialog dengan Socrates sebagai peserta utamanya.
Ciri-ciri
karya Plato adalah bersifat sokratik dimana karya-karyanya ketika muda selalu
menampilkan kepribadian dan karangan Socrates. Berbentuk dialog, hampir semua
karya Plato ditulis dalam nada dialog.
Adanya mite-mite, Plato selalu menggunakan mitos-mitos untuk menjelaskan
ajarannya yang abstrak dan adiduniawi.
Sumbangan
terbesar Plato dalam dunia filsafat adalah pandangannya mengenai “idea”.
Menurutnya “idea” tidak diciptakan oleh pemikiran manusia, dan tidak tergantung
oleh pemikiran manusia. Melainkan pikiran manusia yang tergantung pada “idea”.
Idea merupakan citra pokok dan perdana dari realitas, nonmaterial, abadi dan
tidak berubah. Idea sudah ada dan
berdiri sendiri di luar pemikiran kita dan idea-idea ini saling berkaitan satu
dengan yang lain. Plato juga bependapat bahwa dunia indrawi adalah dunia yang
mencakup benda-benda jasmani yang konkret dan dapat dijangkau/dirasakan oleh
indra kita. Dunia indrawi tak lain hanyalah refleksi atau bayangan daripada
dunia ideal. Sesuatu yang terdapat dalam dunia jasamani itu fana, dapat rusak
dan dapat mati, karena dunia indrawi dapat berubah. Sedangkan dunia idea adalah
dunia yang hanya terbuka bagi rasio kita. Dalam dunia idea ini tidak ada
perubahan, semua bersifat abadi dan tidak dapat dirubah. Hanya ada satu idea
“yang bagus” , “yang indah”. Hal ini tidak merujuk pada barang-barang kasar
yang bisa dipegang saja, tetapi juga menganai konsep-konsep pikiran, hasil buah
intelektual. Misal konsep mengenai “kebajikan” dan “kebenaran”.
c.
Rasioalisme (R. Descartes)
Lahir di
La Haye, Perancis, 31 Maret 1596 – meninggal di Stockholm, Swedia 11, 11
Februari 1650). Rene Descartes juga dikenal sebagai Renatus Cartesius dalam
literatur bahasa Latin. Dia merupakan seorang filsuf dan matematikawan
Perancis. Karynya yang terpenting adalah Discours de la methode (1637) dan
Meditationes de prima Philosophia (1641).
Descartes
diklaim sebagai “Bapak Filsafat Modern” dan “Bapak Matematikawan Modern”,
pemikirannya yang kritis dan merupakan salah satu pemikir penting dan
berpengaruh dalam sejarah barat modern. Dia juga menginspirasi generasi filsuf
kontemporer dan setelahnya, sehingga muncul pemikiran rasionalisme kontinental,
sebuah posisi filosofikal pada Eropa abad 17 dan 18.
Pemikiran
Descartes yang revolusioner, membuat sebuah revolusi baru di Eropa. Pandangan
Descartes adalah cogito ergo sum atau
Je pense donc je suis, aku berpikir
maka aku ada. Dia berpendapat bahwa semuanya tidak ada yang pasti, kecuali
kenyataan bahwa seseorang bisa berpikir. Selain itu, Descartes juga dikenal
sebagai penemu Sistem koordinat Cartesius yang mempengaruhi perkembangan
Kalkulus modern.
Karya
filsafat Descartes mengenai Pengetahuan yang pasti. Dia berusaha untuk
mendapatkan pengetahuan yang tidak dapat diragukan dengan metode meragukan
semua pengetahuan yang ada. Yang akhirnya mengantarkannya pada premisnya Cogito Ergo Sum (aku berpikir maka aku
ada). Menurutnya eksistensi pemikiran manusia adalah absolut dan tidak dapat
diragukan. Meskipun pemikirannya tentang sesuatu yang salah, pikirannya tertipu
oleh suatu matriks, ragu akan segalanya, namun tidak dapat diragukan lagi bahwa
pikiran itu sendiri ada/eksis. Pikiran sendiri bagi Descartes merupakan suatu
benda mental (res cogitans) bukan
bersifat fisik atau meterial. Dari pemikiran ini Descarter mencoba membuktikan
keberadaan Tuhan dan benda-benda itu ada. Descarter juga berpendapat bahwa
realitas bi badi menjadi tiga, yaitu benda material yang terbatas (objek-objek
fisik seperti meja, kursi, tubuh manusi, dll), benda-benda non-mental yang
terbatas (pikiran dan jiwa manusia), serta benda mental yang tak terbatas
(Tuhan). Ia juga membedakan antara pikiran manusia dan tubuh fisik manusia.
Pembagian ini mengantarkannya pada pembagian ilmu. Realitas material sebagai
ranah bagi keilmuan baru yang di bawa oleh galileo dan copernicus. Sedangkan
realitas mental bagi keilmuan dalam bidang agama, etika, dan sejenisnya.
Sejarah Filsafat dari Sayap Bawah/Kiri (Thesis)
a.
Filsafat Berubah (Heraklietos)
Lahir
pada 550 SM dan meninggal pada 480 SM. Heraklietos tidak mengikuti mahzah apapun.
Banyak tulisan-tulisannya yang mengkritik para filsuf dan tokoh-tokoh
terkenal. Namun meski dia berbalik dari
ajaran filsafat umum pada zamannya, bukan berarti dia tidak dipengaruhi oleh
filsuf-filsuf tersebut. Kini hanya tinggal 130 fragmen peninggalannya yang terdiri dari
pepatah-pepatah pendek yang
seringkali tidak jelas artinya.
Filsafatnya tidak mudah dimengerti sehingga dia dijuluki sebagai “si gelap” (the obscure).
Hasil
pemikiran Heraklietos yang terkenal adalah mengenai perubaha-perubahan alam
semesta. Menurutnya tidak ada satupun hal di alam semesta yang bersifat tetap atau permanen. Tidak ada
sesuatu yang betul-betul ada, semua
berada di dalam proses menjadi. Ia
terkenal dengan ucapannya panta rhei kai
uden menei yang berarti “segalanya mengalir
dan tidak ada sesuatupun yang tinggal tetap”. Dia juga berpendapat mengenai
logos. Menurutnya logos adalah rasio yang menjadi hukum yang menguasai segala-galanya dan
menggerakkan segala sesuatu, termasuk manusia. Logos juga dipahami sebagai
sesuatu yang material namun sekaligus melampaui
materi yang biasa. Perang adalah Bapak segala sesuatu merupakan prinsip
pertentangan yang ditegaskan oleh Heraklietos. Perang yang dimaksud di sini ada
pertentangan. Heraklietos menganggap tiap benda terdiri dari pertentangan.
Pertentangan yang ada adalah prinsip keadilan. Kita tidak bisa mengenal apa itu
siang tanpa kita mengenal apa itu malam.
b.
Realisme (Aristoteles)
Lahir
pada 384 SM dan meninggal pada 322 SM. Merupakan filsuf Yunani murida dari
Plato, dan merupakan guru dari Alexander yang agung. Aristoteles menulis
berbagai subyek berbeda, termasuk fisika, metafisika, puisi, logika, retorika,
pemerintahan, etnis, biologi, dan zoologi. Aristoteles dianggap sebagai salah
satu filsuf yang sangat berpengaruh di pemikiran barat bersama dengan Socrates
dan gurunya Plato. Setelah Plato meninggal, Aristoteles mendirikan sekolahnya
Lyceum, pada masa kejayaan Alexander yang agung. Prinsip Aristoteles adalah menekankan
empirisme untuk menekankan pengetahuan.
Pemikiran
Aristoteles yang terakhri mencakup enam karya tulisnya yang membahas mengenai
logika, yang dianggap sebagai karya-karyanya yang paling penting. Selain
kontribusinya di bidang fisika, metafisika, Etika, Politik, Ilmu Kedokteran,
Ilmu Alam, dan Karya seni. Pemikiran Aristoteles banyak mempengaruhi pemikiran
barat dan pemikiran keagamaan lain pada umumnya. Penyelarasan Aristoteles
dengan theologi Kristiani dilakukan oleh Santo Thomas Aquinas di abad ke-13,
dengan theologi Yahudi oleh Maimonides (1135-1204), dan dengan theologi Islam
oleh Ibnu Rasyd (1126-1198). Aristoteles tidak saja dianggap sebagai sumber
yang otoritatif terhadap logika dan metafisika, melainkan juga dianggap sebagai
sumber utama dari ilmu pengetahuan atau “the
master of those who know”.
c.
Empirisme (David Hume)
Lahir
pada 7 Mei [ OS 26 April]
1711-1725 August 1776. Merupakan seorang filsuf Skotlandia, sejarawan, ekonom,
dan esais, yang dikenal dengan filsafatnya yang empirisme dan skeptisme. D.
Hume adalah salah satu tokoh paling penting dalam sejarah filsafat barat dan
Pencerahan Skotlandia. Hume sering dikelompokkan dengan John Locke, George Berkeley, dan beberapa orang lain
sebagai empiris Inggris.
Dimulai
dengan A Treatise of Human Nature (1739),
Hume berusaha untuk membuat total naturalistik " ilmu manusia "yang memeriksa psikologis dasar sifat manusia. Dalam oposisi sekali dengan rasionalis yang mendahuluinya, terutama Descartes, ia menyimpulkan bahwa keinginan daripada alasan diatur perilaku manusia, dengan mengatakan:
"Alasannya adalah, dan hanya harus menjadi budak dari nafsu." [3]
Seorang tokoh terkemuka dalam tradisi filsafat skeptis dan empiris yang kuat,
ia menentang keberadaan ide-ide bawaan, menyimpulkan bahwa manusia
bukan hanya memiliki pengetahuan tentang hal-hal yang mereka alami secara
langsung. Dengan demikian ia membagi persepsi antara yang kuat dan hidup
"tayangan" atau sensasi langsung dan samar "ide-ide", yang
disalin dari tayangan. Dia mengembangkan posisi bahwa perilaku mental yang
diatur oleh "kebiasaan", yang diperoleh kemampuan, kami menggunakan induksi, misalnya, hanya
dibenarkan oleh gagasan kita tentang "bersama konstanta" dari sebab
dan akibat. Tanpa tayangan langsung dari "diri" metafisika, ia
menyimpulkan bahwa manusia tidak memiliki konsepsi yang sebenarnya dari diri,
hanya dari berkas sensasi berhubungan dengan diri.
Hume
menganjurkan compatibilist teori kehendak bebas yang terbukti sangat berpengaruh
terhadap berikutnya filsafat moral . Dia juga seorang sentimentalist yang menyatakan bahwa etika
didasarkan pada perasaan dan bukan prinsip-prinsip moral yang abstrak. Hume
juga memeriksa normatif adalah-harusnya masalah . Dia memegang
pandangan terkenal ambigu Kristen , [4]
tetapi terkenal menantang argumen dari desain dalam bukunya Dialogues Concerning Natural Religion
(1777).
Kant dikreditkan Hume dengan membangunkannya
dari nya "terlelap dogmatis" dan Hume telah terbukti sangat
berpengaruh pada filosofi berikutnya, terutama pada utilitarianisme , positivisme logis , William James , filsafat ilmu , awal filsafat analitik , filsafat kognitif, dan
gerakan lainnya dan pemikir. Filsuf Jerry Fodor menyatakan Treatise Hume
"dokumen pendiri ilmu kognitif ". [5]
Juga terkenal sebagai penata prosa, [6]
Hume memelopori esai sebagai genre sastra dan terlibat dengan tokoh-tokoh
intelektual kontemporer seperti Jean-Jacques Rousseau , Adam Smith (yang mengakui pengaruh Hume pada
nya ekonomi dan filsafat politik ), James Boswell, Joseph Butler, dan Thomas Reid.
Filsafat dengan Sayap Tengah (Synthesis)
a.
Socrates
Lahri
di Athena pada 470 SM dan menginggal pada 399 SM. Socrates merupakan salah satu
figur penting dalam tradisi filosofi barat. Dia merupakan generasi pertama dari
tiga filsuf besar dari Yunani, yaitu Socrates, Plato, Artistoteles. Secara
historis, filsafat Socrates mengandung pertanyaan karena Socrates tidak pernah
diketahui pernah menuliskan buah pikirannya. Apa yang dikenal sebagai pemikiran
Socrates pada dasarnya adalah hasil dari catatan Plato, Xenophone (430-357) SM
dan murid-murid lainnya. Yang paling terkenal diantaranya adalah Socrates dalam
dialog Plato dimana Plato selalu menggunakan nama gurunya itu sebagai tokoh
utama karyanya, sehingga sangat sulit untuk membedakan mana gagasan Socrates
yang sesungguhnya dan mana gagasan Plato yang disampaikan melalui mulut
Socrates.
Socrates
dikenal sebagai seorang yang tidak tampan, berpakaian sederhana, tanpa alas
kaki dan berkelilingi mendatangi masyarakat Athena
berdiskusi soal filsafat.
Dia melakukan ini pada awalnya didasari satu motif religius untuk membenarkan
suara gaib yang didengar seorang kawannya dari Oracle Delphi
yang mengatakan bahwa tidak ada orang yang lebih bijak dari Socrates. Merasa
diri tidak bijak dia berkeliling membuktikan kekeliruan suara tersebut, dia
datangi satu demi satu orang-orang yang dianggap bijak oleh masyarakat
pada saat itu dan dia ajak diskusi tentang berbagai masalah kebijaksanaan.
Metode berfilsafatnya inilah yang dia sebut sebagai metode kebidanan. Dia
memakai analogi seorang bidan yang membantu kelahiran seorang bayi dengan caranya
berfilsafat yang membantu lahirnya pengetahuan melalui diskusi panjang dan
mendalam. Dia selalu mengejar definisi absolut tentang satu masalah kepada
orang-orang yang dianggapnya bijak tersebut meskipun kerap kali orang yang
diberi pertanyaan gagal melahirkan definisi tersebut. Pada akhirnya Socrates
membenarkan suara
gaib tersebut berdasar satu pengertian bahwa dirinya adalah yang paling bijak
karena dirinya tahu bahwa dia tidak bijaksana sedangkan mereka yang merasa
bijak pada dasarnya adalah tidak bijak karena mereka tidak tahu kalau mereka
tidak bijaksana.
Peninggalan
pemikiran Socrates yang paling penting ada pada cara dia berfilsafat dengan
mengejar satu definisi absolut atas satu permasalahan melalui satu dialektika.
Pengejaran pengetahuan hakiki melalui penalaran dialektis menjadi pembuka jalan
bagi para filsuf
selanjutnya. Perubahan fokus filsafat dari memikirkan alam menjadi manusia juga
dikatakan sebagai jasa dari Sokrates. Manusia
menjadi objek filsafat yang penting setelah sebelumnya dilupakan oleh para
pemikir hakikat alam semesta. Pemikiran tentang manusia ini
menjadi landasan bagi perkembangan filsafat etika dan epistemologis di kemudian
hari. Sumbangsih Socrates yang terpenting bagi pemikiran Barat adalah metode
penyelidikannya, yang dikenal sebagai metode elenchos, yang banyak
diterapkan untuk menguji konsep moral yang pokok. Karena itu, Socrates dikenal
sebagai bapak dan sumber etika atau filsafat moral, dan juga filsafat secara
umum.
b.
Nicholas Copernicus
Nicolaus
Copernicus lahir di Toruń, 19 Februari 1473 – meninggal
di Frombork, 24 Mei
1543 pada umur 70 tahun)
adalah seorang astronom, matematikawan, dan ekonom
berkebangsaan Polandia,
yang mengembangkan teori
heliosentrisme
(berpusat di matahari)
Tata Surya
dalam bentuk yang terperinci, sehingga teori tersebut bermanfaat bagi sains. Ia juga seorang kanon gereja, gubernur dan
administrator, hakim,
astrolog, dan tabib. Teorinya tentang Matahari sebagai pusat Tata Surya, yang
menjungkirbalikkan teori geosentris
tradisional (yang menempatkan Bumi di pusat alam semesta)
dianggap sebagai salah satu penemuan yang terpenting sepanjang masa, dan
merupakan titik mula fundamental bagi astronomi modern dan sains modern (teori
ini menimbulkan revolusi ilmiah). Teorinya memengaruhi banyak
aspek kehidupan manusia lainnya. Universitas
Nicolaus Copernicus di Torun, didirikan tahun 1945, dinamai untuk
menghormatinya.
Sepulangnya
ke Polandia, pamannya melantik dia sebagai sekretaris, penasihat, dan dokter
pribadinya — suatu kedudukan yang bergengsi. Selama puluhan tahun berikutnya,
Nicolaus menjabat berbagai kedudukan administratif, baik di bidang agama maupun sipil. Meski
sangat sibuk, ia melanjutkan penelitiannya tentang bintang
dan planet,
mengumpulkan bukti untuk mendukung suatu teori yang revolusioner bahwa bumi bukan pusat yang
tidak bergerak dari alam semesta tetapi, sebenarnya, bergerak mengitari matahari.
Teori
ini bertentangan dengan ajaran filsuf yang terpandang, Aristoteles,
dan tidak sejalan dengan kesimpulan matematikawan Yunani, Ptolemeus.
Selain itu, teori Copernicus menyangkal apa yang dianggap sebagai
"fakta" bahwa Matahari terbit di timur dan bergerak
melintasi angkasa
untuk terbenam di barat, sedangkan bumi tetap tidak bergerak.
Copernicus
bukanlah orang yang pertama yang menyimpulkan bahwa bumi berputar mengitari
Matahari. Astronom Yunani Aristarkhus dari Samos telah mengemukakan
teori ini pada abad ketiga Sebelum Masehi. Para pengikut Pythagoras
telah mengajarkan bahwa bumi serta Matahari bergerak mengitari suatu api pusat. Akan tetapi,
Ptolemeus menulis bahwa jika bumi bergerak, "binatang dan benda lainnya
akan bergelantungan di udara, dan bumi akan jatuh dari langit dengan
sangat cepat". Ia menambahkan, "sekadar memikirkan hal-hal itu saja
terlihat konyol".
Ptolemeus
mendukung gagasan Aristoteles bahwa bumi tidak bergerak di pusat alam semesta
dan dikelilingi oleh serangkaian bola bening yang saling bertumpukan, dan
bola-bola itu tertancap Matahari, planet-planet, dan bintang-bintang. Ia
menganggap bahwa pergerakan bola-bola bening inilah yang menggerakan planet dan
bintang. Rumus matematika Ptolemeus menjelaskan, dengan akurasi hingga taraf
tertentu, pergerakan planet-planet di langit malam.
Namun,
kelemahan teori Ptolemeus itulah yang mendorong Copernicus untuk mencari
penjelasan alternatif atas pergerakan yang aneh dari planet-planet. Untuk menopang
teorinya, Kopernikus merekonstruksi peralatan yang digunakan oleh para astronom
zaman dahulu. Walaupun sederhana dibandingkan dengan standar modern, peralatan
ini memungkinkan dia menghitung jarak relatif antara planet-planet dan
Matahari. Selama bertahun-tahun, ia berupaya menetukan secara persis
tanggal-tanggal manakala para pendahulunya telah membuat beberapa pengamatan
penting di bidang astronomi. Diperlengkapi dengan data ini, Copernicus mulai
mengerjakan dokumen kontroversial yang menyatakan bahwa bumi dan manusia
di dalamnya bukanlah pusat alam semesta.
Copernicus
menggunakan tahun-tahun terakhir kehidupannya untuk memperbaiki dan melengkapi
berbagai argumen dan rumus matematika yang
menopang teorinya. Lebih dari 95 persen dokumen akhir itu memuat perincian
teknis yang mendukung kesimpulannya. Dokumen tulisan tangan orisinal ini masih
ada dan disimpan di Universitas Jagiellonian di Kraków, Polandia.
Dokumen ini tidak berjudul. Oleh karena itu, astronom Fred Hoyle menulis,
"Kita benar-benar tidak tahu bagaimana Copernicus ingin menamai bukunya
itu".
Bahkan
sebelum karya itu diterbitkan, isinya telah membangkitkan minat. Copernicus
telah menerbitkan sebuah rangkuman singkat tentang gagasannya dalam sebuah
karya yang disebut Commentariolus. Alhasil, laporan tentang penelitiannya
sampai ke Jerman
dan Roma.
Pada awal tahun 1533, Paus Klemens VII mendengar tentang teori
Copernicus. Dan, pada tahun 1536, Kardinal Schönberg menyurati Copernicus,
mendesak dia untuk menerbitkan catatan lengkap gagasannya. Georg Joachim
Rhäticus, seorang profesor di Universitas
Wittenberg di Jerman, begitu penasaran oleh karya Copernicus sampai-sampai
ia mengunjungi Copernicus dan akhirnya menghabiskan waktu bersamanya selama dua
tahun. Pada tahun 1542, Rhäticus membawa pulang sebuah salinan manuskrip
itu ke Jerman dan menyerahkannya kepada seorang tukang cetak bernama Petraeius
dan seorang juru tulis sekaligus korektor tipografi
bernama Andreas Osiander.
Osiander
menjuduli karya itu De revolutionibus orbium coelestium (Mengenai Perputaran
Bola-Bola Langit). Dengan mencantumkan frasa “bola-bola langit”, Osiander
menyiratkan bahwa karya itu dipengaruhi oleh gagasan Aristoteles. Osiander juga
menulis kata pengantar anonim, yang menyatakan bahwa hipotesis dalam buku itu
bukanlah artikel tentang iman dan belum tentu benar. Copernicus tidak menerima
salinan dari buku
yang dicetak itu, yang diubah dan dikompromikan tanpa seizinnya, sampai hanya
beberapa jam
sebelum kematiannya pada tahun 1543.
c.
Imannuel Kant
Immanuel
Kant (lahir di Königsberg, 22 April 1724 – meninggal di Königsberg, 12 Februari
1804 pada umur 79 tahun)
adalah seorang filsuf
Jerman.
Karya Kant yang terpenting adalah Kritik der
Reinen Vernunft, 1781. Dalam bukunya ini ia “membatasi pengetahuan
manusia”. Atau dengan kata lain “apa yang bisa diketahui manusia.” Ia
menyatakan ini dengan memberikan tiga pertanyaan:
Apakah
yang bisa kuketahui?
Apakah
yang harus kulakukan?
Apakah
yang bisa kuharapkan?
Pertanyaan
ini dijawab sebagai berikut:
Apa-apa
yang bisa diketahui manusia hanyalah yang dipersepsi dengan panca indera.
Lain daripada itu merupakan “ilusi” saja, hanyalah ide.
Semua
yang harus dilakukan manusia harus bisa diangkat menjadi sebuah peraturan umum.
Hal ini disebut dengan istilah “imperatif kategoris”.
Contoh: orang sebaiknya jangan mencuri, sebab apabila hal ini diangkat menjadi
peraturan umum, maka apabila semua orang mencuri, masyarakat tidak akan jalan.
Yang
bisa diharapkan manusia ditentukan oleh akal budinya. Inilah yang
memutuskan pengharapan manusia.
Ketiga
pertanyaan di atas ini bisa digabung dan ditambahkan menjadi pertanyaan
keempat: “Apakah itu manusia?”
Immanuel
Kant dilahirkan pada tahun 1724 di Königsberg dari pasangan Johann Georg Kant,
seorang ahli pembuat baju zirah (baju besi), dan Anna Regina Kant.[1]
Ayahnya kemudian dikenal sebagai ahli perdagangan, namun di tahun 1730-1740,
perdangangan di Königsberg mengalami kemerosotan.[1]
Hal ini memengaruhi bisnis ayahnya dan membuat keluarga mereka hidup dalam
kesulitan.[1]
Ibunya meninggal saat Kant berumur 13 tahun, sedangkan ayah Kant meninggal saat
dia berumur hampir 22 tahun.[1]
Pendidikan
dasarnya ditempuh Kant di Saint George's Hospital School, kemudian dilanjutkan
ke Collegium Fredericianum, sebuah sekolah yang berpegang pada ajaran Pietist.[2]
Keluarga Kant memang penganut agama Pietist, yaitu agama di Jerman yang
mendasarkan keyakinannya pada pengalaman religius dan studi kitab suci.[2]
Pada tahun 1740, Kant menempuh pendidikan di University of Königsberg dan
mempelajari tentang filosofi, matematika, dan ilmu alam.[2]
Untuk meneruskan pendidikannya, dia bekerja sebagai guru privat selama tujuh
tahun dan pada masa itu, Kant mempublikasikan beberapa naskah yang berkaitan
dengan pertanyaan ilmiah.[2]
Pada tahun 1755-1770, Kant bekerja sebagai dosen sambil terus
mempublikasikan beberapa naskah ilmiah dengan berbagai macam topik.[2]
Gelar profesor
didapatkan Kant di Königsberg pada tahun 1770.
d.
Auguste
Comte
August
Comte atau juga Auguste Comte (Nama panjang: Isidore Marie Auguste François
Xavier Comte; lahir di Montpellier, Perancis,
17 Januari
1798 – meninggal
di Paris,
Perancis,
5 September
1857 pada umur 59 tahun)
adalah seorang ilmuwan Perancis yang dijuluki sebagai "bapak sosiologi".
Dia dikenal sebagai orang pertama yang mengaplikasikan metode ilmiah
dalam ilmu sosial.
Comte
lahir di Montpellier,
sebuah kota
kecil di bagian barat daya dari negara Perancis. Setelah bersekolah disana, ia
melanjutkan pendidikannya di Politeknik École di Paris. Politeknik École
saat itu terkenal dengan kesetiaannya kepada idealis republikanisme dan
filosofi proses. Pada tahun 1818, politeknik tersebut ditutup untuk re-organisasi. Comte
pun meninggalkan École dan melanjutkan pendidikannya di sekolah kedokteran di
Montpellier.
Tak
lama kemudian, ia melihat sebuah perbedaan yang mencolok antara agama Katolik
yang ia anut dengan pemikiran keluarga monarki
yang berkuasa sehingga ia terpaksa meninggalkan Paris. Kemudian pada bulan
Agustus
1817 dia menjadi murid
sekaligus sekertaris dari Claude Henri
de Rouvroy, Comte de Saint-Simon, yang kemudian membawa Comte masuk
ke dalam lingkungan intelek. Pada tahun 1824, Comte meninggalkan
Saint-Simon karena lagi-lagi ia merasa ada ketidakcocokan dalam hubungannya.
Saat
itu, Comte mengetahui apa yang ia harus lakukan selanjutnya: meneliti tentang
filosofi positivisme.
Rencananya ini kemudian dipublikasikan dengan nama Plan de travaux
scientifiques nécessaires pour réorganiser la société (1822) (Indonesia: Rencana
studi ilmiah untuk pengaturan kembali masyarakat).
Tetapi ia gagal mendapatkan posisi akademis sehingga menghambat penelitiannya.
Kehidupan dan penelitiannya kemudian mulai bergantung pada sponsor dan bantuan
finansial dari beberapa temannya.
Ia
kemudian menikahi seorang wanita bernama Caroline Massin. Comte
dikenal arogan, kejam dan mudah marah sehingga pada tahun 1826 dia dibawa ke sebuah rumah sakit
jiwa, tetapi ia kabur sebelum sembuh. Kemudian setelah kondisinya
distabilkan oleh Massin, ia mengerjakan kembali apa yang dulu direncanakannya.
Namun sayangnya, ia bercerai dengan Massin pada tahun 1842 karena alasan yang
belum diketahui. Saat-saat di antara pengerjaan kembali rencananya sampai pada
perceraiannya, ia mempublikasikan bukunya yang berjudul Le Cours de
Philosophie Positivistic.
Pada
tahun 1844,
Comte menjalin kasih dengan Clotilde de Vaux, dalam
hubungan yang tetap platonis. Setelah Clotilde
wafat, kisah cinta ini menjadi quasi-religius. Tak lama
setelahnya, Comte, yang merasa dirinya adalah seorang penemu sekaligus seorang nabi dari "agama
kemanusiaan" (religion of humanity), menerbitkan bukunya yang berjudul
Système de politique positive (1851 - 1854).
Comte
melihat satu hukum universal dalam semua ilmu pengetahuan yang kemudian ia
sebut sebagai 'hukum tiga fase'. Melalui hukumnya ia mulai dikenal di seluruh wilayah
berbahasa Inggris (English-speaking world); menurutnya, masyarakat berkembang
melalui tiga fase: Teologi, Metafisika, dan tahap positif (atau sering juga
disebut "tahap ilmiah").
Fase
Teologi dilihat dari prespektif abad ke-19 sebagai permulaan abad pencerahan,
dimana kedudukan seorang manusia dalam masyarakat dan pembatasan norma dan
nilai manusia didapatkan didasari pada perintah Tuhan. Meskipun memiliki
sebutan yang sama, fase Metafisika Comte sangat berbeda dengan teori Metafisika
yang dikemukakan oleh Aristoteles atau ilmuwan Yunani kuno lainnya; pemikiran
Comte berakar pada permasalahan masyarakat Perancis pasca-revolusi
PerancisRevolusi. Fase Metafisika ini merupakan justifikasi dari
"hak universal" sebagai hal yang pada [atas] suatu wahana [yang]
lebih tinggi dibanding otoritas tentang segala [penguasa/penggaris] manusia
untuk membatalkan perintah lalu, walaupun berkata [hak/ kebenaran] tidaklah
disesuaikan kepada yang suci di luar semata-mata kiasan. Apa yang ia
mengumumkan dengan istilah nya Tahap yang ilmiah, Yang menjadi nyata setelah
kegagalan revolusi dan [tentang] Napoleon, orang-orang bisa temukan solusi ke permasalahan
sosial dan membawa [mereka/nya] ke dalam kekuatan di samping proklamasi hak
azasi manusia atau nubuatan kehendak Tuhan. Mengenai ini ia adalah serupa untuk
Karl Marx
Dan Jeremy
Bentham. Karena waktu nya, ini gagasan untuk suatu Tahap ilmiah
telah dipertimbangkan terbaru, walaupun dari suatu sudut pandang kemudiannya
[itu] adalah [yang] terlalu derivative untuk ilmu fisika klasik dan sejarah akademis.
Hukum
universal lain [yang] ia [memanggil/hubungi] ' hukum yang seperti ensiklopedi'.
Dengan kombinasi hukum ini, Comte mengembang;kan suatu penggolongan [yang]
hirarkis dan sistematis dari semua ilmu pengetahuan, termasuk ilmu fisika tidak
tersusun teratur ( ilmu perbintangan, ilmu pengetahuan bumi dan ilmu kimia)
dan ilmu fisika organik ( biologi dan untuk pertama kali, bentuk badan sociale, dinamai kembali
kemudiannya sociologie).
Ini
gagasan untuk suatu science—not khusus ras manusia, [yang] bukan metaphysics—for sosial
adalah terkemuka abad yang 19th dan tidak unik ke Comte. Ambitious—Many akan
kata[kan grandiose—way yang Comte membayangkan tentangnya, bagaimanapun, adalah
unik.
Comte
lihat ilmu pengetahuan baru ini, sosiologi,
[seperti;sebagai;ketika] [yang] terbesar dan yang ter]akhir dari semua ilmu
pengetahuan, apa yang itu akan meliputi semua lain ilmu pengetahuan, dan yang
akan mengintegrasikan dan menghubungkan penemuan mereka ke dalam suatu [yang]
utuh kompak.
Comte’S
penjelasan Filosofi yang positif memperkenalkan hubungan yang penting antar[a]
teori, praktik dan pemahaman manusia dunia. Pada [atas] halaman 27 yang 1855
[yang] mencetak Harriet Martineau’S
terjemahan Filosofi Auguste [yang] Yang positif Comte, kita lihat pengamatan
nya bahwa, “ Jika adalah benar bahwa tiap-tiap teori harus didasarkan diamati
fakta, [itu] dengan sama benar yang fakta tidak bisa diamati tanpa bimbingan
beberapa teori. Tanpa . seperti (itu) bimbingan, fakta [kita/kami] akan
bersifat tanpa buah dan tak teratur; kita tidak bisa mempertahankan
[mereka/nya]: sebagian terbesar kita tidak bisa genap merasa [mereka/nya]. (
Comte, A. ( 1974 cetak ulang). Filosofi yang positif Auguste Comte [yang]
dengan [cuma-cuma/bebas] yang diterjemahkan dan yang dipadatkan oleh Harriet
Martineau. New York, NY: ADALAH Tekanan. ( Pekerjaan asli menerbitkan 1855, New
York, NY: Calvin Blanchard, p. 27.)
Ia
coined kata[an] "altruism"
untuk mengacu pada apa yang ia percaya untuk menjadi kewajiban moral individu
untuk melayani (orang) yang lain dan menempatkan minat mereka di atas diri
sendiri. Ia menentang;kan [itu] gagasan untuk [hak/ kebenaran] individu,
pemeliharaan yang mereka tidaklah konsisten dengan etis diharapkan ini ( Ini (
Catechisme Positiviste).
[Seperti]
yang telah menyebutkan, Comte merumuskan hukum tiga
langkah-langkah, salah satu [dari] teori yang pertama evolutionism
yang sosial: pengembangan manusia itu ( kemajuan sosial) maju dari
theological
langkah, di mana alam[i] secara dongengan dipahami/dikandung dan orang
[laki-laki] mencari penjelasan [dari;ttg] gejala alami dari mahluk hal-hal yang
gaib, melalui/sampai metaphysical langkah di
mana alam[i] telah membayangkan sebagai hasil mengaburkan kekuatan dan orang
[laki-laki] mencari penjelasan [dari;ttg] gejala alami dari [mereka/nya] sampai
yang akhir [itu] Positive Langkah di mana
semua abstrak dan mengaburkan kekuatan dibuang, dan gejala alami diterangkan
oleh hubungan tetap mereka. Kemajuan ini dipaksa melalui/sampai pengembangan
pikiran manusia, dan meningkat(kan) aplikasi pikiran, pemikiran dan logika
kepada pemahaman dunia.
Di
(dalam) Seumur hidup Comte's, pekerjaan nya kadang-kadang dipandang secara
skeptis sebab ia telah mengangkat Paham positifisme untuk a agama dan yang telah nama
[sen]dirinya Sri Paus Paham positifisme. Ia coined istilah " sosiologi"
untuk menandakan ilmu pengetahuan masyarakat yang baru]]. Ia mempunyai lebih
awal menggunakan ungkapan [itu], " ilmu fisika sosial," untuk mengacu
pada ilmu pengetahuan masyarakat yang positif; tetapi sebab (orang) yang lain,
[yang] khususnya Orang statistik Belgia Adolphe Quetelet, dimulai
yang telah untuk menggunakan itu memasukkan [adalah] suatu maksud/arti berbeda,
Comte merasa[kan kebutuhan [itu] untuk menemukan [itu] pembentukan kata baru,
" sosiologi," a hybrid tentang Latin
" socius" (" teman") dan Yunani"?????" ( Logo,
" Kata[An]").
Comte
biasanya dihormati [ketika;seperti] lebih dulu Sarjana sosiologi barat ( Ibn Khaldun
setelah didahului dia di (dalam) Timur dengan hampir empat berabad-abad).
Penekanan Comte's pada [atas] saling behubungan [dari;ttg] unsur-unsur sosial
adalah suatu pertanda [dari;ttg] modern functionalism.
Meskipun demikian, [seperti/ketika] dengan (orang) yang lain banyak orang
[dari;ttg] Waktu Comte's, unsur-unsur [yang] tertentu [dari;ttg] pekerjaan nya
kini dipandang sebagai tak ilmiah dan eksentrik, dan visi agung sosiologi nya
[sebagai/ketika] benda hiasan di tengah meja dari semua ilmu pengetahuan belum
mengakar.
Penekanan
nya pada [atas] suatu kwantitatif, mathematical basis untuk pengambilan
keputusan tinggal dengan [kita/kami] hari ini. [Ini] merupakan suatu pondasi
bagi dugaan Paham positifisme yang modern, analisa statistik kwantitatif
modern, dan pengambilan keputusan bisnis. Uraian nya hubungan siklis yang
berlanjut antar[a] teori dan praktik dilihat di sistem bisnis modern Total
Manajemen Berkwalitas dan Peningkatan Mutu Berlanjut [di mana/jika] advokat
menguraikan suatu siklus teori [yang] berlanjut dan praktik melalui/sampai
four-part siklus rencana,, cek, dan bertindak. Di samping pembelaan analisis
kuantitatif nya, Comte lihat suatu batas dalam kemampuan nya untuk membantu
menjelaskan gejala sosial.
Pertanyaan:
1.
Bisakah statement Bapak mengenai saya relatif
terhadap ruang dan waktu dibuktikan secara ilmiah?
0 comments:
Post a Comment