Friday, January 11, 2013

TUGAS AKHIR FILSAFAT : QADAR SEBAGAI TAKDIR ABSOLUT



QADAR SEBAGAI TAKDIR ABSOLUT
KAJIAN TERHADAP PANDANGAN MOSLEM FATALISM  MENURUT CATHOLIC ENSYCLOPAEDIA

Makalah Dibuat Dalam Rangka Melengkapi Tugas-Tugas Perkuliahan Filsafat Ilmu dari Dr. Marsigit, M.A., Tahun. 2012 / 2013






Oleh:
Ninda Argafani
12709251053







PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA
PASCA SARJANAUNIVERSITAS NEGERI YOGY AKARTA
2013




DAFTAR ISI

1. Daftar Isi …………………………………………………………………     i
2. Pendahuluan ……………………………………………………………..      1
3. Kerangka Teori ………………………………………………………….       2
A. Fatalism ……………………………………………………………...      2
B. Anti-Fatalism ………………………………………………………...      2
C. Moslem Fatalism from Catholic Encyclopaedia ……………………. ...      2
4. Pembahasan ……………………………………………………………..       4
A. Takdir ………………………………………………………………..      4
B. Kesimpulan ………………………………………………………….       6
5. Daftar Pustaka …………………………………………………………..      viii






PENDAHULUAN


Fatalism merupakan suatu paham yang tidak mengakui kekuatan / usaha manusia. Mereka mempercayai bahwa segala kegiatan dalam kehidupan ini merupakan sebuah takdir atau kehendak Tuhan, manusia tidak mengusahakan apa-apa.
Sebagai sebuah perenungan, penulis ingin mencoba mengkaji terhadap beberapa pendapat menganai fatalism secara umum, dan mengenai anti-fatalism. Serta penulis ingin mencoba mangkaji pendapat dari Catholic Encyclopaedia mengenai Moslem fatalism.
Penulisan makalah ini bertujuan untuk menambah kazanah pengetahuan penulis mengenai fatalism dan sebagai pendalaman diri. Sekaligus sebagai tugas untuk melengkapi tugas-tugas perkuliahan Filsafat Ilmu yang diampu oleh Prof. Dr. Marsigit, M. A..





KERANGKA TEORI


A. Fatalism
Fatalism merupakan sebuah doktrin filosofis, yang menekankan bahwa semua kejadian atau tindakan sebagai takdir (Wikipedia).
Fatalism berpandangan bahwa manusia itu powerless terhadap apapun, termasuk pandangan bahwa manusia tidak mempunyai kuasa atau campur tangan dalam menentukan masa depannya. Selain itu, sikap pengunduran diri dalam menghadapi masa depan, termasuk peristiwa yang tidak terelakan. Kepercayaan bahwa berusaha itu untuk sesuatu yang tak terelakkan. Percaya dan menerima dari pada melawan sesuatu yang tak terelakkan, paham yang sama dengan defeatism (Wikipedia).
Fatalism sebagai Idle Argument, dikenalkan oleh Origen dan Cicero. Mereka berpendapat bahwa "Jika sesuatu itu takdir, maka akan tidak ada gunanya atau sia-sia untuk berupaya mendapatkan atau mewujudkannya (Wikipedia).

B. Anti-Fatalism
Banyak argumen yang menentang menganai pendapat Fatalism. Penulis menyebut penentang ini sebagai anti-fatalism. Salah satu tokohnya adalah Bob Miller of Charlottesville. Mereka menentang fatalism karena paham ini dianggap dapat mendorong pesimisme yang determinis. Paham ini juga mempercayai bahwa semua perbuatan / tingkah laku kita sebagai sebuah fungsi penuh dari lingkungan dan merupakan faktor keturunan (natural.org).

C. Moslem Fatalism from Catholic Ensyclopaedia
The Moslem conception of God and His government of the world, the insistence on His unity and the absoluteness of the method of this rule as well as the Oriental tendency to belittle the individuality of man, were all favourable to the development of a theory of predestination approximating towards fatalism. Consequently, though there have been defenders of free will among Moslem teachers, yet the orthodox view which has prevailed most widely


among the followers of the Prophet has been that all good and evil actions and events take place by the eternal decrees of God, which have been written from all eternity on the prescribed table. The faith of the believer and all his good actions have all been decreed and approved, whilst the bad actions of the wicked though similarly decreed have not been approved. Some of the Moslem doctors sought to harmonize this fatalistic theory with man's responsibility, but the Oriental temper generally accepted with facility the fatalistic presentation of the creed; and some of their writers have appealed to this long past predestination and privation of free choice as a justification for the denial of personal responsibility. Whilst the belief in predestined lot has tended to make the Moslem nations lethargic and indolent in respect to the ordinary industries of life, it has developed a recklessness in danger which has proved a valuable element in the military character of the people.






PEMBAHASAN


Fatalism merupakan suatu paham yang tidak mengakui kekuatan / usaha manusia. Mereka mempercayai bahwa segala kegiatan dalam kehidupan ini merupakan sebuah takdir atau kehendak Tuhan, manusia tidak mengusahakan apa-apa.
Fatalism mengabaikan kodrat manusia sebagai insan yang memiliki akal dan kekuatan jasmani. Mereka beranggapan bahwa apapun yang dikerjakan manusia itu pada akhirnya hanya untuk sesuatu yang tidak dapat dielakkan, yaitu takdir.
Dalam Islam konsep takdir ada dua yaitu Qadha' dan Qadar. Qadha' merupakan ketentuan Allah yang masih dapat rubah oleh ikhtiar atau campur tangan manusia. Sedangkan qadar merupakan ketentuan Allah yang hakiki atau tidak dapat diganggu gugat oleh manusia ataupun campur tangan lainnya, dalam hal ini penulis menyebutnya takdir absolut.

A. Takdir (Qadha' dan Qadar)
Banyak sekali ayat-ayat yang membahas mengenai takdir. Tetapi akan disinggung beberapa ayat saja dalam makalah ini. Salah satunya surat yang menjelaskan mengenai takdir absolut adalah surat Al-Furqon ayat 2 dan As- Safat ayat 96 sebagai berikut :

"Dia (Allah) telah menciptakan segala sesuatu dan sungguh telah menetapkannya (takdirnya)" (Q.S 25:2).
"Allah menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat" (Q.S 37:96)

Seperti yang tertuang pada Katolik Ensiklopedia, bahwa disana disebutkan Allah sebagai the only one power. Pemerintahan Allah di dunia sebagai pengibaratannya, bahwa kekuasaan Allah yang absolute dianggap bertendensi dan menganggap kecil / remeh pada kekuatan individualitas manusia.


Jika kita mengacu pada ayat di atas memang benar, bahwa Islam merupakan ajaran yang fatalism. Karena semua kekuatan bersumber dari Allah. Di mata Allah memang kekuatan manusia bukan apa-apa. Ini bukan anggapan remeh bila Tuhan menganggap kecil makhluknya, ini sudah merupakan kodrat, dan di agama lain pun pasti sama.
Selain itu, disebutkan pula bahwa beberapa Doktor muslim mencari harmonisasi antara takdir dengan man's responsibility (ikhtiar), tetapi kenyataannya banyak yang hanya menerima sebagai sesuatu yang memang harus dipercaya, dan beberapa menggunakan takdir dan kekurangan (kemiskinanan) sebagai justifikasi penolakan terhadap tanggung jawab manusia.
Tidak sepenuhnya benar yang dikatakan oleh Katolik Ensiklopedia. Keadaan diatas mungkin memang ada, dan hal ini dikarenakan kekurangtahuan atau ketidaktahuan manusianya dalam memahami konsep takdir di dalam Islam.
Para Doktor muslim sudah benar dengan mengatakan bahwa ada harmonisasi antara takdir dengan man's responsibility (ikhtiar). Kita tengok kembali bahwa takdir ada dua yaitu qadha' dan qadar, yang baru saja kita bahas di atas adalah mengenai takdir, yang disebut sebagai kekuatan yang absolute Tuhan. Dan qadha' merupakan harmonisasi dari takdir dan ikhtiar.
Bila benar Allah di klaim sebagai penguasa dunia ini, lalu mengapa Allah menginginkan manusia untuk berusaha? Perlu diingat, bahwa kekuasaan Allah tidak terbatas, bukan hanya pemerintahan dunia tetapi seluruh jagat rasa dan isinya. Jika kita berbicara mengenai pemerintahan di bumi / dunia, maka manusia tentu sebagai kalifahnya.
Allah memang menginginkan manusia untuk percaya dan mengimani takdir absolut ini, dimana kekuatan (ikhtiar) manusia tidak bisa melawannya. Tetapi Qadha' Allah juga mewajibkan manusia untuk ikut campur dan bertanggung jawab atas kelangsungan hidupnya, masa depannya, yaitu dengan ikhtiar. Sehingga dengan kata lain, Allah mengijinkan manusia untuk ikut campur mengubah takdirnya.
Sebagai contoh, bahwa jelas rejeki itu Allah yang mengatur. Rejeki merupakan takdir (qadha' dan qadar) Allah, yaitu Allah sudah menggariskan setiap manusia dengan rijekinya masing-masing. Kemudian Allah menghimbau kepada manusia bahwa meskipun rejeki itu sudah tersedia, tetapi manusia wajib menjemputnya atau mengambilnya. Dalam usaha mengambil ini merupakan ikhtiar / man's responsibility. Seperti yang tercantum dalam Qur'an Surat Ar-Rad ayat 11:

"Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri...." (Q.S 13:11).

Katolik Ensiklopedi mengatakan bahwa dengan mempercayai takdir menjadikan umat Islam lemah dan malas dalam  setiap segi kehidupanya. Seolah-olah digambarkan disini, bahwa semua umat muslim yang mempercayai takdir menjadikan mereka manusia yang lemah dan suka bermalas-malasan, tidak pernah berusaha, tidak mempunyai daya hanya mengandalkan bantuan Tuhan.
Statement yang demikian jelas bertolak belakang dengan ayat di atas, bahwa Allah sangat menganjurkan manusia untuk berusaha merubah hidupnya, karena Allah tidak akan pernah merubah apa yang sudah menjadi takdir manusia tersebut, jika manusia tersebut tidak mengusahakannya sendiri.

B. Kesimpulan
Jelas bahwa paham fatalism bertolak belakang dengan ajaran Islam. Demikian juga dengan kaum anti-fatalism, yaitu yang menganggap kekuatan manusia sebagai segala-galanya.
Takdir absolut Allah adalah hakiki, yaitu tidak ada campur tangan apapun yang dapat menolak atau mengubahnya, contoh: kematian, jenis kelamin kita, siapa orang tua kita, rejeki dan siapa jodoh kita.
Takdir tidak absolut atau Qadha' merupakan pemberian kesempatan oleh Allah kepada manusia dalam menentukan / mengubah takdirnya. Allah mewajibkan manusia melakukan ikhtiar dalam menjemput masa depannya, contoh: rejeki dan jodoh merupakan takdir absolut Allah, tetapi berbeda dengan kematian, jenis kelamin dan siapa orang tua kita. Perbedaannya adalah bahwa rejeki dan jodoh harus memerlukan ikhtiar, meski tetap hak prerogratif di tangan Allah. Sedangkan kematian, jenis kelamin dan siapa orang tua kita tidak memerlukan campur tangan manusia, dengan kata lain manusia tidak perlu menjemputnya Allah sudah menetapkannya di Lauf Mafudz.
Yang keliru dan fatal adalah, terkadang orang mengira terlahir miskin itu merupakan takdir. Anggapan itu tidak 100% salah, karena memang sudah menjadi ketentuan Allah manusia harus lahir dari keluarga miskin atau kaya. Yang menjadi fatal adalah apabila kemudian manusia menggunakan alasan kemiskinannya atau kekayaannya sebagai penolakan untuk tidak berusaha lagi untuk merubah /  menjemput masa depannya.




DAFTAR PUSTAKA


___________. 3 Strikes Againt Fatalism. http://www.naturalism.org/fatalism.htm


Catholis Encyclopaedia. Fatalism. http://www.newadvent.org/cathen/05791a.htm


0 comments:

Post a Comment

 

Philoo's Psychoo Addict Copyright © 2012 Design by Ipietoon Blogger Template