QADAR SEBAGAI TAKDIR ABSOLUT
KAJIAN TERHADAP PANDANGAN MOSLEM FATALISM MENURUT CATHOLIC ENSYCLOPAEDIA
Makalah Dibuat Dalam Rangka Melengkapi Tugas-Tugas
Perkuliahan Filsafat Ilmu dari Dr. Marsigit, M.A., Tahun. 2012 / 2013
Oleh:
Ninda Argafani
12709251053
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA
PASCA SARJANAUNIVERSITAS NEGERI YOGY AKARTA
2013
DAFTAR ISI
1. Daftar
Isi ………………………………………………………………… i
2.
Pendahuluan …………………………………………………………….. 1
3.
Kerangka Teori …………………………………………………………. 2
A.
Fatalism ……………………………………………………………... 2
B.
Anti-Fatalism ………………………………………………………... 2
C.
Moslem Fatalism from Catholic Encyclopaedia ……………………. ... 2
4.
Pembahasan …………………………………………………………….. 4
A.
Takdir ……………………………………………………………….. 4
B.
Kesimpulan …………………………………………………………. 6
5. Daftar
Pustaka ………………………………………………………….. viii
PENDAHULUAN
Fatalism
merupakan suatu paham yang tidak mengakui kekuatan / usaha manusia. Mereka
mempercayai bahwa segala kegiatan dalam kehidupan ini merupakan sebuah takdir
atau kehendak Tuhan, manusia tidak mengusahakan apa-apa.
Sebagai
sebuah perenungan, penulis ingin mencoba mengkaji terhadap beberapa pendapat
menganai fatalism secara umum, dan mengenai anti-fatalism. Serta penulis ingin
mencoba mangkaji pendapat dari Catholic Encyclopaedia mengenai Moslem fatalism.
Penulisan
makalah ini bertujuan untuk menambah kazanah pengetahuan penulis mengenai
fatalism dan sebagai pendalaman diri. Sekaligus sebagai tugas untuk melengkapi
tugas-tugas perkuliahan Filsafat Ilmu yang diampu oleh Prof. Dr. Marsigit, M.
A..
KERANGKA TEORI
A.
Fatalism
Fatalism
merupakan sebuah doktrin filosofis, yang menekankan bahwa semua kejadian atau
tindakan sebagai takdir (Wikipedia).
Fatalism
berpandangan bahwa manusia itu powerless
terhadap apapun, termasuk pandangan bahwa manusia tidak mempunyai kuasa atau
campur tangan dalam menentukan masa depannya. Selain itu, sikap pengunduran
diri dalam menghadapi masa depan, termasuk peristiwa yang tidak terelakan.
Kepercayaan bahwa berusaha itu untuk sesuatu yang tak terelakkan. Percaya dan
menerima dari pada melawan sesuatu yang tak terelakkan, paham yang sama dengan
defeatism (Wikipedia).
Fatalism
sebagai Idle Argument, dikenalkan oleh Origen dan Cicero. Mereka berpendapat
bahwa "Jika sesuatu itu takdir, maka akan tidak ada gunanya atau sia-sia
untuk berupaya mendapatkan atau mewujudkannya (Wikipedia).
B.
Anti-Fatalism
Banyak
argumen yang menentang menganai pendapat Fatalism. Penulis menyebut penentang
ini sebagai anti-fatalism. Salah satu tokohnya adalah Bob Miller of
Charlottesville. Mereka menentang fatalism karena paham ini dianggap dapat
mendorong pesimisme yang determinis. Paham ini juga mempercayai bahwa semua
perbuatan / tingkah laku kita sebagai sebuah fungsi penuh dari lingkungan dan
merupakan faktor keturunan (natural.org).
C. Moslem
Fatalism from Catholic Ensyclopaedia
The Moslem conception of God and His government of the world,
the insistence on His unity and the absoluteness of the method of this rule as
well as the Oriental tendency to belittle the individuality of man, were all
favourable to the development of a theory of predestination approximating towards fatalism.
Consequently, though there have been defenders of free will among Moslem teachers, yet the orthodox view which has prevailed most
widely
among the followers of the Prophet
has been that all good and evil actions and events take place by
the eternal decrees of God, which have been written from all eternity on the prescribed table. The faith of the believer and all his good
actions have all been decreed and approved, whilst the bad actions of the
wicked though similarly decreed have not been approved. Some of the Moslem doctors sought to harmonize this fatalistic
theory with man's responsibility, but the Oriental temper generally accepted
with facility the fatalistic presentation of the creed; and some of their
writers have appealed to this long past predestination and privation of free choice as a
justification for the denial of personal responsibility. Whilst the belief in predestined lot has tended to make the Moslem nations lethargic and indolent in
respect to the ordinary industries of life, it has developed a recklessness in
danger which has proved a valuable element in the military
character of the people.
PEMBAHASAN
Fatalism
merupakan suatu paham yang tidak mengakui kekuatan / usaha manusia. Mereka
mempercayai bahwa segala kegiatan dalam kehidupan ini merupakan sebuah takdir
atau kehendak Tuhan, manusia tidak mengusahakan apa-apa.
Fatalism
mengabaikan kodrat manusia sebagai insan yang memiliki akal dan kekuatan
jasmani. Mereka beranggapan bahwa apapun yang dikerjakan manusia itu pada
akhirnya hanya untuk sesuatu yang tidak dapat dielakkan, yaitu takdir.
Dalam
Islam konsep takdir ada dua yaitu Qadha' dan Qadar. Qadha' merupakan ketentuan
Allah yang masih dapat rubah oleh ikhtiar atau campur tangan manusia. Sedangkan
qadar merupakan ketentuan Allah yang hakiki atau tidak dapat diganggu gugat
oleh manusia ataupun campur tangan lainnya, dalam hal ini penulis menyebutnya
takdir absolut.
A. Takdir
(Qadha' dan Qadar)
Banyak
sekali ayat-ayat yang membahas mengenai takdir. Tetapi akan disinggung beberapa
ayat saja dalam makalah ini. Salah satunya surat yang menjelaskan mengenai
takdir absolut adalah surat Al-Furqon ayat 2 dan As- Safat ayat 96 sebagai
berikut :
"Dia (Allah) telah menciptakan segala sesuatu dan sungguh telah menetapkannya
(takdirnya)" (Q.S 25:2).
"Allah menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat" (Q.S 37:96)
Seperti
yang tertuang pada Katolik Ensiklopedia, bahwa disana disebutkan Allah sebagai the only one power. Pemerintahan Allah di dunia sebagai pengibaratannya, bahwa
kekuasaan Allah yang absolute dianggap bertendensi dan menganggap kecil / remeh
pada kekuatan individualitas manusia.
Jika
kita mengacu pada ayat di atas memang benar, bahwa Islam merupakan ajaran yang
fatalism. Karena semua kekuatan bersumber dari Allah. Di mata Allah memang
kekuatan manusia bukan apa-apa. Ini bukan anggapan remeh bila Tuhan menganggap
kecil makhluknya, ini sudah merupakan kodrat, dan di agama lain pun pasti sama.
Selain
itu, disebutkan pula bahwa beberapa Doktor muslim mencari harmonisasi antara
takdir dengan man's responsibility
(ikhtiar), tetapi kenyataannya banyak yang hanya menerima sebagai sesuatu yang
memang harus dipercaya, dan beberapa menggunakan takdir dan kekurangan
(kemiskinanan) sebagai justifikasi penolakan terhadap tanggung jawab manusia.
Tidak
sepenuhnya benar yang dikatakan oleh Katolik Ensiklopedia. Keadaan diatas
mungkin memang ada, dan hal ini dikarenakan kekurangtahuan atau ketidaktahuan
manusianya dalam memahami konsep takdir di dalam Islam.
Para
Doktor muslim sudah benar dengan mengatakan bahwa ada harmonisasi antara takdir
dengan man's responsibility
(ikhtiar). Kita tengok kembali bahwa takdir ada dua yaitu qadha' dan qadar,
yang baru saja kita bahas di atas adalah mengenai takdir, yang disebut sebagai
kekuatan yang absolute Tuhan. Dan qadha' merupakan harmonisasi dari takdir dan
ikhtiar.
Bila
benar Allah di klaim sebagai penguasa dunia ini, lalu mengapa Allah
menginginkan manusia untuk berusaha? Perlu diingat, bahwa kekuasaan Allah tidak
terbatas, bukan hanya pemerintahan dunia tetapi seluruh jagat rasa dan isinya.
Jika kita berbicara mengenai pemerintahan di bumi / dunia, maka manusia tentu
sebagai kalifahnya.
Allah
memang menginginkan manusia untuk percaya dan mengimani takdir absolut ini,
dimana kekuatan (ikhtiar) manusia tidak bisa melawannya. Tetapi Qadha' Allah
juga mewajibkan manusia untuk ikut campur dan bertanggung jawab atas
kelangsungan hidupnya, masa depannya, yaitu dengan ikhtiar. Sehingga dengan
kata lain, Allah mengijinkan manusia untuk ikut campur mengubah takdirnya.
Sebagai
contoh, bahwa jelas rejeki itu Allah yang mengatur. Rejeki merupakan takdir
(qadha' dan qadar) Allah, yaitu Allah sudah menggariskan setiap manusia dengan
rijekinya masing-masing. Kemudian Allah menghimbau kepada manusia bahwa
meskipun rejeki itu sudah tersedia, tetapi manusia wajib menjemputnya atau
mengambilnya. Dalam usaha mengambil ini merupakan ikhtiar / man's responsibility. Seperti yang
tercantum dalam Qur'an Surat Ar-Rad ayat 11:
"Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan
sesuatu kaum sehingga mereka merubah
keadaan yang ada pada diri mereka sendiri...." (Q.S 13:11).
Katolik
Ensiklopedi mengatakan bahwa dengan mempercayai takdir menjadikan umat Islam
lemah dan malas dalam setiap segi kehidupanya.
Seolah-olah digambarkan disini, bahwa semua umat muslim yang mempercayai takdir
menjadikan mereka manusia yang lemah dan suka bermalas-malasan, tidak pernah
berusaha, tidak mempunyai daya hanya mengandalkan bantuan Tuhan.
Statement
yang demikian jelas bertolak belakang dengan ayat di atas, bahwa Allah sangat
menganjurkan manusia untuk berusaha merubah hidupnya, karena Allah tidak akan
pernah merubah apa yang sudah menjadi takdir manusia tersebut, jika manusia
tersebut tidak mengusahakannya sendiri.
B.
Kesimpulan
Jelas
bahwa paham fatalism bertolak belakang dengan ajaran Islam. Demikian juga
dengan kaum anti-fatalism, yaitu yang menganggap kekuatan manusia sebagai
segala-galanya.
Takdir
absolut Allah adalah hakiki, yaitu tidak ada campur tangan apapun yang dapat
menolak atau mengubahnya, contoh: kematian, jenis kelamin kita, siapa orang tua
kita, rejeki dan siapa jodoh kita.
Takdir
tidak absolut atau Qadha' merupakan pemberian kesempatan oleh Allah kepada
manusia dalam menentukan / mengubah takdirnya. Allah mewajibkan manusia
melakukan ikhtiar dalam menjemput masa depannya, contoh: rejeki dan jodoh
merupakan takdir absolut Allah, tetapi berbeda dengan kematian, jenis kelamin
dan siapa orang tua kita. Perbedaannya adalah bahwa rejeki dan jodoh harus memerlukan
ikhtiar, meski tetap hak prerogratif di tangan Allah. Sedangkan kematian, jenis
kelamin dan siapa orang tua kita tidak memerlukan campur tangan manusia, dengan
kata lain manusia tidak perlu menjemputnya Allah sudah menetapkannya di Lauf
Mafudz.
Yang
keliru dan fatal adalah, terkadang orang mengira terlahir miskin itu merupakan
takdir. Anggapan itu tidak 100% salah, karena memang sudah menjadi ketentuan
Allah manusia harus lahir dari keluarga miskin atau kaya. Yang menjadi fatal
adalah apabila kemudian manusia menggunakan alasan kemiskinannya atau
kekayaannya sebagai penolakan untuk tidak berusaha lagi untuk merubah / menjemput masa depannya.
DAFTAR PUSTAKA
___________. Iman Kepada Takdir Baik
dan Buruk. http://muslimah.or.id/aqidah/iman-kepada-takdir-baik-dan-takdir-buruk.html
Catholis Encyclopaedia. Fatalism. http://www.newadvent.org/cathen/05791a.htm
Wikipedia. Fatalism. http://en.wikipedia.org/wiki/Fatalism
Wikipedia. Takdir. http://id.wikipedia.org/wiki/Takdir

0 comments:
Post a Comment