Thursday, December 13, 2012

Refleksi #6 Guru Sebuah Profesi Sakral



 GURU SEBUAH PROFESI SAKRAL

oleh:
Ninda Argafani
12709251053
PMat C PPs UNY

Kita jadi bisa menulis dan membaca
Kar’na siapa
Kita jadi tahu beraneka bidang ilmu
Dari siapa
Kita jadi pintar dibimbing Pak Guru
Kita jadi pandai dibimbing Bu Guru
Guru bak pelita penerang dalam gulita
Jasamu tiada tara

Masing ingatkah dengan lagu ini? Dari sini dapat terlihat betapa agunnya guru. Guru bukan merupakan sebuah profesi biasa. Dari tangan seorang guru dapat mengembangkan sebuah embrio muda menjadi sosok idola bangsa. Dari tangan seorang guru dapat memberikan sumbangsih yang luar biasa terhadap kemajuan bangsa. Guru, sungguh tiada tara jasamu.

Guru dahulunya adalah sebuah profesi yang diremehkan. Mengapa? Karena beban kerja dan tanggung jawab yang sangat tidak mudah dengan gaji yang relatif sangat sedikit bahkan memprihatinkan. Sehingga tidak sembarang orang mau menggeluti dunia ini, kecuali memang benar-benar orang yang merasa terpanggil jiwanya untuk menekuni dunia pendidikan sebagai guru.

Fenomena sekarang terbalik, guru yang dulu menjadi sesuatu yang “extint” sekarang menjadi perburuan. Semua orang berbondong-bondong ingin menjadi guru karena banyak sekali iming mulai dari pengangkatan, tunjangan, sampai sertifikasi yang bisa dibilang lumayan jumlahnya. Karena fenomena ini, maka banyak pula bermunculan universita-universitas yang melayani mahasiswa untuk menjadi calon pendidik. Masalahnya adalah benarkah mereka benar-benar bisa dikatakan sebagai guru yang ada di dalam lagu diatas? Ataukah mereka hanya sebagai guru karbitan yang ingin mengejar sertifikasi dan kedudukan nyaman semata?

Saya ingin mengutip statement dari film Rataouille, Anton Ego mengatakan “Everyone can be an artist but a good artist cannot come from everyone”. Sama halnya dengan profesi guru bahwa “semua orang bisa menjadi guru tetapi guru yang baik tidak bisa datang dari sembarang orang”. Jelas disini bahwa semua orang mungkin berbondong-bondong untuk menjadi guru, tetapi benarkah mereka memang memiliki kualifikasi tersebut? Mungkin secara tempatnya iya (ijasah) namun secara konten/isinya bagaimana? Indonesia itu mempunyai penyakit latah. Karena lewat profesi guru dianggap paling gampang untuk menjadi pegawai negeri apalagi iming-iming sertifikasi. Maka orang-orangpun latah untuk kuliah dibidang ini.

Marilah teman-teman yang memang benar-benar ingin serius menekuni dunia ini, kita kembangkan diri kita. Renungkanlah bahwa profesi ini tidak akan pernah berjalan dengan baik untuk menciptakan generasi-generasi penerus jika dalam jiwa kita tidak terpanggil. Tundukkan ego kita, renungkanlah kelemahan-kelemahan kita yang dapat menghambat kemajuan siswa. Perbaiki dan kembangkanlah diri dan kemampuan kita dengan selalu mengupgrade kapasitas kita. Nikmati profesi sakral ini bukan hanya sebagai tukang yang memenuhi kewajiban mengajar dan kewajiban kurikulum semata tetapi sebagai researcher (a work of heart), sebuah panggilan jiwa untuk selalu melakukan research yang  urgensi demi memenuhi semua kebutuhan siswa-sisnya. Ayo,...lakukan selalu Continue Personal Development. Agar kita dapat menjadi guru yang benar-benar akuntabel dan sustainable. Masa depan ada di tangan kita kawan, tunjukkan existancemu sebagai pencetak generasi-generasi baru bangsa ini.

0 comments:

Post a Comment

 

Philoo's Psychoo Addict Copyright © 2012 Design by Ipietoon Blogger Template