GURU SEBUAH PROFESI SAKRAL
oleh:
Ninda Argafani
12709251053
PMat C PPs UNY
Kita jadi
bisa menulis dan membaca
Kar’na siapa
Kita jadi
tahu beraneka bidang ilmu
Dari siapa
Kita jadi
pintar dibimbing Pak Guru
Kita jadi
pandai dibimbing Bu Guru
Guru bak
pelita penerang dalam gulita
Jasamu tiada
tara
Masing ingatkah dengan lagu ini? Dari
sini dapat terlihat betapa agunnya guru. Guru bukan merupakan sebuah profesi
biasa. Dari tangan seorang guru dapat mengembangkan sebuah embrio muda menjadi
sosok idola bangsa. Dari tangan seorang guru dapat memberikan sumbangsih yang
luar biasa terhadap kemajuan bangsa. Guru, sungguh tiada tara jasamu.
Guru dahulunya adalah sebuah
profesi yang diremehkan. Mengapa? Karena
beban kerja dan tanggung jawab yang sangat tidak mudah dengan gaji yang relatif
sangat sedikit bahkan memprihatinkan. Sehingga tidak sembarang orang mau
menggeluti dunia ini, kecuali memang benar-benar orang yang merasa terpanggil jiwanya
untuk menekuni dunia pendidikan sebagai guru.
Fenomena sekarang terbalik, guru
yang dulu menjadi sesuatu yang “extint” sekarang menjadi perburuan. Semua orang
berbondong-bondong ingin menjadi guru karena banyak sekali iming mulai dari
pengangkatan, tunjangan, sampai sertifikasi yang bisa dibilang lumayan
jumlahnya. Karena fenomena ini, maka banyak pula bermunculan
universita-universitas yang melayani mahasiswa untuk menjadi calon pendidik. Masalahnya
adalah benarkah mereka benar-benar bisa dikatakan sebagai guru yang ada di
dalam lagu diatas? Ataukah mereka hanya sebagai guru karbitan yang ingin
mengejar sertifikasi dan kedudukan nyaman semata?
Saya ingin mengutip statement
dari film Rataouille, Anton Ego mengatakan “Everyone can be an artist but a
good artist cannot come from everyone”. Sama halnya dengan profesi guru bahwa “semua orang bisa menjadi guru tetapi guru
yang baik tidak bisa datang dari sembarang orang”. Jelas disini bahwa semua
orang mungkin berbondong-bondong untuk menjadi guru, tetapi benarkah mereka
memang memiliki kualifikasi tersebut? Mungkin secara tempatnya iya (ijasah)
namun secara konten/isinya bagaimana? Indonesia itu mempunyai penyakit latah. Karena
lewat profesi guru dianggap paling gampang untuk menjadi pegawai negeri apalagi
iming-iming sertifikasi. Maka orang-orangpun latah untuk kuliah dibidang ini.
Marilah teman-teman yang memang
benar-benar ingin serius menekuni dunia ini, kita kembangkan diri kita. Renungkanlah
bahwa profesi ini tidak akan pernah berjalan dengan baik untuk menciptakan
generasi-generasi penerus jika dalam jiwa kita tidak terpanggil. Tundukkan ego
kita, renungkanlah kelemahan-kelemahan kita yang dapat menghambat kemajuan
siswa. Perbaiki dan kembangkanlah diri dan kemampuan kita dengan selalu
mengupgrade kapasitas kita. Nikmati profesi
sakral ini bukan hanya sebagai tukang
yang memenuhi kewajiban mengajar dan kewajiban kurikulum semata tetapi sebagai researcher (a work of heart), sebuah panggilan jiwa untuk selalu melakukan research yang urgensi demi memenuhi semua kebutuhan siswa-sisnya.
Ayo,...lakukan selalu Continue Personal Development. Agar kita dapat menjadi
guru yang benar-benar akuntabel dan sustainable. Masa depan ada di tangan kita
kawan, tunjukkan existancemu sebagai pencetak generasi-generasi baru bangsa
ini.

0 comments:
Post a Comment