Refleksi V : Prof. Marsigit
STOP PEMBUNUHAN INTUISI
NINDA ARGAFANI (12709251053)
PMat C Pasca Sarjana UNY
Pemerintah
itu seperti mafia, tetapi lebih kejam dari mafia. Bagaimana tidak? Setiap kurikulum
yang telah diberlakukan tidak menuai hasil atau prospek keuangan yang masuk
kekantong menipis, maka secepat kilat menurunkan UU baru untuk mengganti
kurikulum yang sudah ada dengan kurikulum baru. Dengan dalih, bahwa kurikulum
saat ini tidak atau kurang cocok dengan kondisi pembelajaran saat ini.
Ibarat
sungai yang mengalir, pemerintah hanya bisa mengikuti arus yang sekarang
menjadi trend dikalangan dunia tanpa bisa memodifikasi atau mengembangkan lebih dalam strategi pembelajaran yang
disesuaikan dengan kondisi masyarakat Indonesia. Kondisi seperti inipun secara
global menjangkiti masyarakat Indonesia yang semakin hari semakin senang
menjadi seorang plagiat atau pengikut tren tanpa bisa menciptakan trennya
sendiri. Yang menjadi pertanyaan adalah
mau sampai kapan?
Pendidikan
di Indonesia sudah dari dulu sakit, ibarat orang sakit tidak pernah sekalipun
sembuh tetapi malah semakin
parah. Dan sekarang
yang sedang akan diluncurkan adalah penambahan pendidikan anti korupsi
dan anti narkoba di dalam kurikulum. Saya kira lucu sekali, anak-anak tidak tahu mengenai korupsi dan tidak pernah melakukan korupsi mengapa
harus mereka yang mendapatkan pendidikan itu? Mengapa tidak pemerintah saja
mendapatkan pendidikan tersebut?
Berhentilah
membunuh intuisi anak-anak. Marilah kita sebgai orang dewasa bercermin diri sehingga dapat menjadi
panutan anak-anak tanpa harus mematikan intuisi mereka. Biarkan anak-anak
berkembangan dengan wajar sesuai dengan usia mereka. Dan tanamkan rasa jujur
serta tanggung jawab dan cinta tanah air agar anak-anak memiliki kebanggaan
terhadap bangsanya.
Jika
kurikulum yang ada gagal atau kurang cocok, carilah dimana gagalnya, dimana
kurang cocoknya. Bukan serta merta mengganti dengan kurikulum yang lebih in
tanpa penjelasan dan pertanggung jawaban yang konkret. Kemudian dari kegagalan
itu tutuplah dengan variasi baru. Saya kira banyak sekali orang-orang yang
kompeten dipemerintahan. Yang menjadi permasalahan adalah mau tidak mereka
direpotkan oleh hal-hal semacam ini?
(Sumber: Perkuliahan Filsafat 22-11-2012, 13.00 WIB - oleh Prof. Marsigit)

