Thursday, November 29, 2012

#Refleksi 5 : STOP PEMBUNUHAN INTUISI

2 comments

 
Refleksi V : Prof. Marsigit

STOP PEMBUNUHAN INTUISI
NINDA ARGAFANI (12709251053)
PMat C Pasca Sarjana UNY





Pemerintah itu seperti mafia, tetapi lebih kejam dari mafia. Bagaimana tidak? Setiap kurikulum yang telah diberlakukan tidak menuai hasil atau prospek keuangan yang masuk kekantong menipis, maka secepat kilat menurunkan UU baru untuk mengganti kurikulum yang sudah ada dengan kurikulum baru. Dengan dalih, bahwa kurikulum saat ini tidak atau kurang cocok dengan kondisi pembelajaran saat ini.
Ibarat sungai yang mengalir, pemerintah hanya bisa mengikuti arus yang sekarang menjadi trend dikalangan dunia tanpa bisa memodifikasi atau mengembangkan  lebih dalam strategi pembelajaran yang disesuaikan dengan kondisi masyarakat Indonesia. Kondisi seperti inipun secara global menjangkiti masyarakat Indonesia yang semakin hari semakin senang menjadi seorang plagiat atau pengikut tren tanpa bisa menciptakan trennya sendiri.  Yang menjadi pertanyaan adalah mau sampai kapan?
Pendidikan di Indonesia sudah dari dulu sakit, ibarat orang sakit tidak pernah  sekalipun  sembuh tetapi malah semakin  parah.  Dan  sekarang  yang sedang akan diluncurkan adalah penambahan pendidikan anti  korupsi  dan anti narkoba di dalam kurikulum. Saya  kira lucu sekali, anak-anak tidak tahu  mengenai korupsi dan  tidak pernah melakukan korupsi mengapa harus  mereka yang mendapatkan  pendidikan itu? Mengapa tidak pemerintah saja mendapatkan pendidikan tersebut?
Berhentilah  membunuh intuisi anak-anak.  Marilah  kita sebgai orang  dewasa bercermin diri sehingga dapat menjadi panutan anak-anak tanpa harus mematikan intuisi mereka. Biarkan anak-anak berkembangan dengan wajar sesuai dengan usia mereka. Dan tanamkan rasa jujur serta tanggung jawab dan cinta tanah air agar anak-anak memiliki kebanggaan terhadap bangsanya.
Jika kurikulum yang ada gagal atau kurang cocok, carilah dimana gagalnya, dimana kurang cocoknya. Bukan serta merta mengganti dengan kurikulum yang lebih in tanpa penjelasan dan pertanggung jawaban yang konkret. Kemudian dari kegagalan itu tutuplah dengan variasi baru. Saya kira banyak sekali orang-orang yang kompeten dipemerintahan. Yang menjadi permasalahan adalah mau tidak mereka direpotkan oleh hal-hal semacam ini?

 (Sumber: Perkuliahan Filsafat 22-11-2012, 13.00 WIB - oleh Prof. Marsigit)

#Refleksi 4 : Menembus Ruang dan Waktu

0 comments

Refleksi IV
DEMI MASA : MENEMBUS RUANG dan WAKTU
NINDA ARGAFANI (12709251053)
PMat C Pasca Sarjana UNY




Sebelumnya selamat kepada Prof. Marisigit atas amanah baru yang diberikan kepada beliau atas pengabdian dan dedikasinya terhadap dunia pendidikan di Indonesia. Merupakan sebuah insiparasi bagi saya dan teman-teman untuk dapat mengikuti jejak beliau nantinya. Amin.
Refleksi kali ini saya seperti mengalami kram otak. Ide-ide yang seharusnya bersahabat dengan saya tiba-tiba berada diluar otak saya, hilang entah kemana. Pada kuliah kali ini memberikan saya pengentahuan baru bahwa selama ini saya sudah menembus ruang dan waktu tanpa saya sadari.
 Setiap detik dari hidup kita ternyata menembus ruang dan waktu, bahkan belum ada sedetikpun kita berpaling, kita sudah melakukan aktifitas menembus ruang dan waktu. Sebagai contoh secara material saya menembus ruang dan waktu yaitu pagi itu saya terjatuh dan merasakan sakit. Secara formal saya menembus ruang dan waktu adalah hari kamis tanggal 08-11-2012 pukul 13.00 saya begelar sebagai mahasiswa filsafat. Saya menembus ruang dan waktu secara nomatif ketika saya berpikir, dan saya dikatakan menembus ruang dan waktu secara spiritual ketika saya melakukan sholat subuh sebelum fajar menyingsing di sudut kamar.
Hal ini menyadarkan saya, bahwa setiap detik waktu kita begitu berharga dan bermakna. Saya teringat Q.S. 103: 1 yang mengatakan bahwa “demi masa”, Allah menggunakan masa (yaitu yang meliputi ruang dan waktu) sebagai sumpahNya yang mengindikasikan bahwa masa itu memang sangat berharga. Dalam ayat ke 2-3 disebutkan pula bahwa “sungguh, manusia berada dalam kerugian”, Allah mengingatkan kita bahwa manusia itu akan sangat merugi jika tidak dapat menggunakan waktunya dengan baik. “Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran”, Allah juga lebih memperjelas lagi bahwa manusia itu merugi kecuali orang-orang yang dapat memanfaatkan masanya, bahasa filsafatnya orang-orang yang sopan dengan ruang dan waktu yaitu orang-orang yang beriman dan dapat memanfaatkan masanya untuk berbuat kebajikan baik untuk kepentingan dunia dan akhirat (baik material, formal, normatif dan spiritual), serta saling nasehat menasehati dalam hal kebenaran dan kesabaran. Hal ini sudah mencakup keseluruhan, dapat diartikan secara material bahwa saya senang jika dapat membantu orang lain, secara formatif saya sebagai guru memberikan yang terbaik untuk murid-murid saya, secara normatif saya memikirkan masa depan murid-murid saya jika saya tidak bisa memberikan yang terbaik untuk mereka, dan secara spiritual saya merasa merugi jika dalam mengakhirkan waktu shalat saya dan tidak dapat memberikan contoh terbaik untuk murid-murid saya.
Penjelasan ini seharusnya masih bisa di intensifkan, tetapi karena keterbatasan saya dalam ilmu dan pengetahuan sehingga hanya ini yang dapat saya refleksikan. Mungkin untuk teman-teman hal ini sepele, tetapi hal sepele ini sangat menyadarkan saya akan pentingnya waktu dan bagaimana kita sopan terhadapnya sehingga kita bisa melakukan yang terbaik pada setiap detik nafas kehidupan kita ini, dan meminilaisir adanya rasa penyesalan karena sudah melewatkan sesuatu yang berharga dengan kemudhorotan. Na’udzubillah.

(Sumber: Kuliah Filsafat, 08-11-2012 Ruang 304 Gedung Lama Pasca Sarjana UNY - oleh Prof. Marsigit)

 

Philoo's Psychoo Addict Copyright © 2012 Design by Ipietoon Blogger Template