Thursday, October 4, 2012

Refleksi #3 : Sejarah Filsafat dari Hulu ke Hilir

0 comments

Refleksi III : Dr. Marsigit
SEJARAH FILSAFAT DARI HULU KE HILIR
oleh NINDA ARGAFANI (12709251053)
PMat C Pasca Sarjana UNY













Saya mencoba menuliskan histori dari alur yang digambar oleh Dr. Masigit dan sebagai Daftar Pustaka saya menggunakan Wikipedia Indonesia maupun English.
Sejarah Filsafat dari Sayap Atas/Kanan (Thesis)
a.            Filsafat tetap (Parmenides)
Lahir pada tahun 540 SM dan meninggal pada tahun 470 SM. Merupakan murid Xenophanes tetapi pemikirannya sama sekali tidak dipengaruhi oleh gurunya. Parmenides hanya meniru gaya puisi gurunya untuk menuangkan ide-ide filsafatnya. Cara berfilsafat Parmenides dipengaruhi oleh Ameinias, seseorang dari Mahzab Pythagorean.
Parmenides terkenal dengan pemikirannya tentang “Yang Ada”. Inti “Jalan Kebenaran” adalah “hanya ‘yang ada’ itu ada”. Yang ada itu segala sesuatu, tidak bergerak, tidak berubah, dan tidak terhancurkan, tidak tergoyahkan dan tidak dapat disangkal. Parmenides mendiskripsikan “yang ada” dengan segala sesuatu yang dapat dikatakan dan dipikirkan.
Parmenides membuka babak baru dalam sejarah filsafat Yunani. Parmenides dapat dikatakan sebagai penemu metafisika, cabang ilmu yang menyelidiki “yang ada”. Pemikiran Parmenides mempengaruhi Plato dan Aristoteles.
b.           Idealisme (Plato)
Plato lahir sekitar tahun 427 SM dan meninggal pada tahun 347 SM. Merupakan seorang filsuf dan matematikawan. Dan pendiri Akademik Platonik di Athena, sekolah tingkat tinggi pertama di dunia. Pemikiran Plato banyak dipengaruhi oleh Socrates gurunya. Dan mempengaruhi Aristoteles sebagai muridnya. Karyanya yang paling terkenal adalah Republik, yang didalamnya berisi uraian garis besar pandangannya mengenai keadaan “ideal”. Dia juga menulis “hukum” dalam bentuk dialog dengan Socrates sebagai peserta utamanya.
Ciri-ciri karya Plato adalah bersifat sokratik dimana karya-karyanya ketika muda selalu menampilkan kepribadian dan karangan Socrates. Berbentuk dialog, hampir semua karya Plato ditulis dalam nada  dialog. Adanya mite-mite, Plato selalu menggunakan mitos-mitos untuk menjelaskan ajarannya yang abstrak dan adiduniawi.
Sumbangan terbesar Plato dalam dunia filsafat adalah pandangannya mengenai “idea”. Menurutnya “idea” tidak diciptakan oleh pemikiran manusia, dan tidak tergantung oleh pemikiran manusia. Melainkan pikiran manusia yang tergantung pada “idea”. Idea merupakan citra pokok dan perdana dari realitas, nonmaterial, abadi dan tidak berubah.  Idea sudah ada dan berdiri sendiri di luar pemikiran kita dan idea-idea ini saling berkaitan satu dengan yang lain. Plato juga bependapat bahwa dunia indrawi adalah dunia yang mencakup benda-benda jasmani yang konkret dan dapat dijangkau/dirasakan oleh indra kita. Dunia indrawi tak lain hanyalah refleksi atau bayangan daripada dunia ideal. Sesuatu yang terdapat dalam dunia jasamani itu fana, dapat rusak dan dapat mati, karena dunia indrawi dapat berubah. Sedangkan dunia idea adalah dunia yang hanya terbuka bagi rasio kita. Dalam dunia idea ini tidak ada perubahan, semua bersifat abadi dan tidak dapat dirubah. Hanya ada satu idea “yang bagus” , “yang indah”. Hal ini tidak merujuk pada barang-barang kasar yang bisa dipegang saja, tetapi juga menganai konsep-konsep pikiran, hasil buah intelektual. Misal konsep mengenai “kebajikan” dan “kebenaran”.
c.            Rasioalisme (R. Descartes)
Lahir di La Haye, Perancis, 31 Maret 1596 – meninggal di Stockholm, Swedia 11, 11 Februari 1650). Rene Descartes juga dikenal sebagai Renatus Cartesius dalam literatur bahasa Latin. Dia merupakan seorang filsuf dan matematikawan Perancis. Karynya yang terpenting adalah Discours de la methode (1637) dan Meditationes de prima Philosophia (1641).
Descartes diklaim sebagai “Bapak Filsafat Modern” dan “Bapak Matematikawan Modern”, pemikirannya yang kritis dan merupakan salah satu pemikir penting dan berpengaruh dalam sejarah barat modern. Dia juga menginspirasi generasi filsuf kontemporer dan setelahnya, sehingga muncul pemikiran rasionalisme kontinental, sebuah posisi filosofikal pada Eropa abad 17 dan 18.
Pemikiran Descartes yang revolusioner, membuat sebuah revolusi baru di Eropa. Pandangan Descartes adalah cogito ergo sum atau Je pense donc je suis, aku berpikir maka aku ada. Dia berpendapat bahwa semuanya tidak ada yang pasti, kecuali kenyataan bahwa seseorang bisa berpikir. Selain itu, Descartes juga dikenal sebagai penemu Sistem koordinat Cartesius yang mempengaruhi perkembangan Kalkulus modern.
Karya filsafat Descartes mengenai Pengetahuan yang pasti. Dia berusaha untuk mendapatkan pengetahuan yang tidak dapat diragukan dengan metode meragukan semua pengetahuan yang ada. Yang akhirnya mengantarkannya pada premisnya Cogito Ergo Sum (aku berpikir maka aku ada). Menurutnya eksistensi pemikiran manusia adalah absolut dan tidak dapat diragukan. Meskipun pemikirannya tentang sesuatu yang salah, pikirannya tertipu oleh suatu matriks, ragu akan segalanya, namun tidak dapat diragukan lagi bahwa pikiran itu sendiri ada/eksis. Pikiran sendiri bagi Descartes merupakan suatu benda mental (res cogitans) bukan bersifat fisik atau meterial. Dari pemikiran ini Descarter mencoba membuktikan keberadaan Tuhan dan benda-benda itu ada. Descarter juga berpendapat bahwa realitas bi badi menjadi tiga, yaitu benda material yang terbatas (objek-objek fisik seperti meja, kursi, tubuh manusi, dll), benda-benda non-mental yang terbatas (pikiran dan jiwa manusia), serta benda mental yang tak terbatas (Tuhan). Ia juga membedakan antara pikiran manusia dan tubuh fisik manusia. Pembagian ini mengantarkannya pada pembagian ilmu. Realitas material sebagai ranah bagi keilmuan baru yang di bawa oleh galileo dan copernicus. Sedangkan realitas mental bagi keilmuan dalam bidang agama, etika, dan sejenisnya.

Sejarah Filsafat dari Sayap Bawah/Kiri (Thesis)
a.              Filsafat Berubah (Heraklietos)
Lahir pada 550 SM dan meninggal pada 480 SM. Heraklietos tidak mengikuti mahzah apapun. Banyak tulisan-tulisannya yang mengkritik para filsuf dan tokoh-tokoh terkenal.  Namun meski dia berbalik dari ajaran filsafat umum pada zamannya, bukan berarti dia tidak dipengaruhi oleh filsuf-filsuf tersebut. Kini hanya tinggal 130 fragmen  peninggalannya yang terdiri dari pepatah-pepatah  pendek yang seringkali  tidak jelas artinya. Filsafatnya tidak mudah dimengerti sehingga dia dijuluki sebagai “si gelap” (the obscure).
Hasil pemikiran Heraklietos yang terkenal adalah mengenai perubaha-perubahan alam semesta. Menurutnya tidak ada satupun hal di alam semesta  yang bersifat tetap atau permanen. Tidak ada sesuatu yang betul-betul ada, semua berada di dalam proses menjadi. Ia terkenal dengan ucapannya panta rhei kai uden menei  yang berarti “segalanya mengalir dan tidak ada sesuatupun yang tinggal tetap”. Dia juga berpendapat mengenai logos. Menurutnya logos adalah rasio yang menjadi hukum  yang menguasai segala-galanya dan menggerakkan segala sesuatu, termasuk manusia. Logos juga dipahami sebagai sesuatu yang material namun sekaligus melampaui  materi yang biasa. Perang adalah Bapak segala sesuatu merupakan prinsip pertentangan yang ditegaskan oleh Heraklietos. Perang yang dimaksud di sini ada pertentangan. Heraklietos menganggap tiap benda terdiri dari pertentangan. Pertentangan yang ada adalah prinsip keadilan. Kita tidak bisa mengenal apa itu siang tanpa kita mengenal apa itu malam.
b.           Realisme (Aristoteles)
Lahir pada 384 SM dan meninggal pada 322 SM. Merupakan filsuf Yunani murida dari Plato, dan merupakan guru dari Alexander yang agung. Aristoteles menulis berbagai subyek berbeda, termasuk fisika, metafisika, puisi, logika, retorika, pemerintahan, etnis, biologi, dan zoologi. Aristoteles dianggap sebagai salah satu filsuf yang sangat berpengaruh di pemikiran barat bersama dengan Socrates dan gurunya Plato. Setelah Plato meninggal, Aristoteles mendirikan sekolahnya Lyceum, pada masa kejayaan Alexander yang agung.  Prinsip Aristoteles adalah menekankan empirisme untuk menekankan pengetahuan.
Pemikiran Aristoteles yang terakhri mencakup enam karya tulisnya yang membahas mengenai logika, yang dianggap sebagai karya-karyanya yang paling penting. Selain kontribusinya di bidang fisika, metafisika, Etika, Politik, Ilmu Kedokteran, Ilmu Alam, dan Karya seni. Pemikiran Aristoteles banyak mempengaruhi pemikiran barat dan pemikiran keagamaan lain pada umumnya. Penyelarasan Aristoteles dengan theologi Kristiani dilakukan oleh Santo Thomas Aquinas di abad ke-13, dengan theologi Yahudi oleh Maimonides (1135-1204), dan dengan theologi Islam oleh Ibnu Rasyd (1126-1198). Aristoteles tidak saja dianggap sebagai sumber yang otoritatif terhadap logika dan metafisika, melainkan juga dianggap sebagai sumber utama dari ilmu pengetahuan atau “the master of those who know”.
c.            Empirisme (David Hume)
Lahir pada 7 Mei [ OS 26 April] 1711-1725 August 1776. Merupakan seorang filsuf Skotlandia, sejarawan, ekonom, dan esais, yang dikenal dengan filsafatnya yang empirisme dan skeptisme. D. Hume adalah salah satu tokoh paling penting dalam sejarah filsafat barat dan Pencerahan Skotlandia. Hume sering dikelompokkan dengan John Locke, George Berkeley, dan beberapa orang lain sebagai empiris Inggris.
Dimulai dengan A Treatise of Human Nature (1739), Hume berusaha untuk membuat total naturalistik " ilmu manusia "yang memeriksa psikologis dasar sifat manusia. Dalam oposisi sekali dengan rasionalis yang mendahuluinya, terutama Descartes, ia menyimpulkan bahwa keinginan daripada alasan diatur perilaku manusia, dengan mengatakan: "Alasannya adalah, dan hanya harus menjadi budak dari nafsu." [3] Seorang tokoh terkemuka dalam tradisi filsafat skeptis dan empiris yang kuat, ia menentang keberadaan ide-ide bawaan, menyimpulkan bahwa manusia bukan hanya memiliki pengetahuan tentang hal-hal yang mereka alami secara langsung. Dengan demikian ia membagi persepsi antara yang kuat dan hidup "tayangan" atau sensasi langsung dan samar "ide-ide", yang disalin dari tayangan. Dia mengembangkan posisi bahwa perilaku mental yang diatur oleh "kebiasaan", yang diperoleh kemampuan, kami menggunakan induksi, misalnya, hanya dibenarkan oleh gagasan kita tentang "bersama konstanta" dari sebab dan akibat. Tanpa tayangan langsung dari "diri" metafisika, ia menyimpulkan bahwa manusia tidak memiliki konsepsi yang sebenarnya dari diri, hanya dari berkas sensasi berhubungan dengan diri.
Hume menganjurkan compatibilist teori kehendak bebas yang terbukti sangat berpengaruh terhadap berikutnya filsafat moral . Dia juga seorang sentimentalist yang menyatakan bahwa etika didasarkan pada perasaan dan bukan prinsip-prinsip moral yang abstrak. Hume juga memeriksa normatif adalah-harusnya masalah . Dia memegang pandangan terkenal ambigu Kristen , [4] tetapi terkenal menantang argumen dari desain dalam bukunya Dialogues Concerning Natural Religion (1777).
Kant dikreditkan Hume dengan membangunkannya dari nya "terlelap dogmatis" dan Hume telah terbukti sangat berpengaruh pada filosofi berikutnya, terutama pada utilitarianisme , positivisme logis , William James , filsafat ilmu , awal filsafat analitik , filsafat kognitif, dan gerakan lainnya dan pemikir. Filsuf Jerry Fodor menyatakan Treatise Hume "dokumen pendiri ilmu kognitif ". [5] Juga terkenal sebagai penata prosa, [6] Hume memelopori esai sebagai genre sastra dan terlibat dengan tokoh-tokoh intelektual kontemporer seperti Jean-Jacques Rousseau , Adam Smith (yang mengakui pengaruh Hume pada nya ekonomi dan filsafat politik ), James Boswell, Joseph Butler, dan Thomas Reid.

Filsafat dengan Sayap Tengah (Synthesis)
a.              Socrates
Lahri di Athena pada 470 SM dan menginggal pada 399 SM. Socrates merupakan salah satu figur penting dalam tradisi filosofi barat. Dia merupakan generasi pertama dari tiga filsuf besar dari Yunani, yaitu Socrates, Plato, Artistoteles. Secara historis, filsafat Socrates mengandung pertanyaan karena Socrates tidak pernah diketahui pernah menuliskan buah pikirannya. Apa yang dikenal sebagai pemikiran Socrates pada dasarnya adalah hasil dari catatan Plato, Xenophone (430-357) SM dan murid-murid lainnya. Yang paling terkenal diantaranya adalah Socrates dalam dialog Plato dimana Plato selalu menggunakan nama gurunya itu sebagai tokoh utama karyanya, sehingga sangat sulit untuk membedakan mana gagasan Socrates yang sesungguhnya dan mana gagasan Plato yang disampaikan melalui mulut Socrates.
Socrates dikenal sebagai seorang yang tidak tampan, berpakaian sederhana, tanpa alas kaki dan berkelilingi mendatangi masyarakat Athena berdiskusi soal filsafat. Dia melakukan ini pada awalnya didasari satu motif religius untuk membenarkan suara gaib yang didengar seorang kawannya dari Oracle Delphi yang mengatakan bahwa tidak ada orang yang lebih bijak dari Socrates. Merasa diri tidak bijak dia berkeliling membuktikan kekeliruan suara tersebut, dia datangi satu demi satu orang-orang yang dianggap bijak oleh masyarakat pada saat itu dan dia ajak diskusi tentang berbagai masalah kebijaksanaan. Metode berfilsafatnya inilah yang dia sebut sebagai metode kebidanan. Dia memakai analogi seorang bidan yang membantu kelahiran seorang bayi dengan caranya berfilsafat yang membantu lahirnya pengetahuan melalui diskusi panjang dan mendalam. Dia selalu mengejar definisi absolut tentang satu masalah kepada orang-orang yang dianggapnya bijak tersebut meskipun kerap kali orang yang diberi pertanyaan gagal melahirkan definisi tersebut. Pada akhirnya Socrates membenarkan suara gaib tersebut berdasar satu pengertian bahwa dirinya adalah yang paling bijak karena dirinya tahu bahwa dia tidak bijaksana sedangkan mereka yang merasa bijak pada dasarnya adalah tidak bijak karena mereka tidak tahu kalau mereka tidak bijaksana.
Peninggalan pemikiran Socrates yang paling penting ada pada cara dia berfilsafat dengan mengejar satu definisi absolut atas satu permasalahan melalui satu dialektika. Pengejaran pengetahuan hakiki melalui penalaran dialektis menjadi pembuka jalan bagi para filsuf selanjutnya. Perubahan fokus filsafat dari memikirkan alam menjadi manusia juga dikatakan sebagai jasa dari Sokrates. Manusia menjadi objek filsafat yang penting setelah sebelumnya dilupakan oleh para pemikir hakikat alam semesta. Pemikiran tentang manusia ini menjadi landasan bagi perkembangan filsafat etika dan epistemologis di kemudian hari. Sumbangsih Socrates yang terpenting bagi pemikiran Barat adalah metode penyelidikannya, yang dikenal sebagai metode elenchos, yang banyak diterapkan untuk menguji konsep moral yang pokok. Karena itu, Socrates dikenal sebagai bapak dan sumber etika atau filsafat moral, dan juga filsafat secara umum.
b.             Nicholas Copernicus
Nicolaus Copernicus lahir di Toruń, 19 Februari 1473 – meninggal di Frombork, 24 Mei 1543 pada umur 70 tahun) adalah seorang astronom, matematikawan, dan ekonom berkebangsaan Polandia, yang mengembangkan teori heliosentrisme (berpusat di matahari) Tata Surya dalam bentuk yang terperinci, sehingga teori tersebut bermanfaat bagi sains. Ia juga seorang kanon gereja, gubernur dan administrator, hakim, astrolog, dan tabib. Teorinya tentang Matahari sebagai pusat Tata Surya, yang menjungkirbalikkan teori geosentris tradisional (yang menempatkan Bumi di pusat alam semesta) dianggap sebagai salah satu penemuan yang terpenting sepanjang masa, dan merupakan titik mula fundamental bagi astronomi modern dan sains modern (teori ini menimbulkan revolusi ilmiah). Teorinya memengaruhi banyak aspek kehidupan manusia lainnya. Universitas Nicolaus Copernicus di Torun, didirikan tahun 1945, dinamai untuk menghormatinya.
Sepulangnya ke Polandia, pamannya melantik dia sebagai sekretaris, penasihat, dan dokter pribadinya — suatu kedudukan yang bergengsi. Selama puluhan tahun berikutnya, Nicolaus menjabat berbagai kedudukan administratif, baik di bidang agama maupun sipil. Meski sangat sibuk, ia melanjutkan penelitiannya tentang bintang dan planet, mengumpulkan bukti untuk mendukung suatu teori yang revolusioner bahwa bumi bukan pusat yang tidak bergerak dari alam semesta tetapi, sebenarnya, bergerak mengitari matahari.
Teori ini bertentangan dengan ajaran filsuf yang terpandang, Aristoteles, dan tidak sejalan dengan kesimpulan matematikawan Yunani, Ptolemeus. Selain itu, teori Copernicus menyangkal apa yang dianggap sebagai "fakta" bahwa Matahari terbit di timur dan bergerak melintasi angkasa untuk terbenam di barat, sedangkan bumi tetap tidak bergerak.
Copernicus bukanlah orang yang pertama yang menyimpulkan bahwa bumi berputar mengitari Matahari. Astronom Yunani Aristarkhus dari Samos telah mengemukakan teori ini pada abad ketiga Sebelum Masehi. Para pengikut Pythagoras telah mengajarkan bahwa bumi serta Matahari bergerak mengitari suatu api pusat. Akan tetapi, Ptolemeus menulis bahwa jika bumi bergerak, "binatang dan benda lainnya akan bergelantungan di udara, dan bumi akan jatuh dari langit dengan sangat cepat". Ia menambahkan, "sekadar memikirkan hal-hal itu saja terlihat konyol".
Ptolemeus mendukung gagasan Aristoteles bahwa bumi tidak bergerak di pusat alam semesta dan dikelilingi oleh serangkaian bola bening yang saling bertumpukan, dan bola-bola itu tertancap Matahari, planet-planet, dan bintang-bintang. Ia menganggap bahwa pergerakan bola-bola bening inilah yang menggerakan planet dan bintang. Rumus matematika Ptolemeus menjelaskan, dengan akurasi hingga taraf tertentu, pergerakan planet-planet di langit malam.
Namun, kelemahan teori Ptolemeus itulah yang mendorong Copernicus untuk mencari penjelasan alternatif atas pergerakan yang aneh dari planet-planet. Untuk menopang teorinya, Kopernikus merekonstruksi peralatan yang digunakan oleh para astronom zaman dahulu. Walaupun sederhana dibandingkan dengan standar modern, peralatan ini memungkinkan dia menghitung jarak relatif antara planet-planet dan Matahari. Selama bertahun-tahun, ia berupaya menetukan secara persis tanggal-tanggal manakala para pendahulunya telah membuat beberapa pengamatan penting di bidang astronomi. Diperlengkapi dengan data ini, Copernicus mulai mengerjakan dokumen kontroversial yang menyatakan bahwa bumi dan manusia di dalamnya bukanlah pusat alam semesta.
Copernicus menggunakan tahun-tahun terakhir kehidupannya untuk memperbaiki dan melengkapi berbagai argumen dan rumus matematika yang menopang teorinya. Lebih dari 95 persen dokumen akhir itu memuat perincian teknis yang mendukung kesimpulannya. Dokumen tulisan tangan orisinal ini masih ada dan disimpan di Universitas Jagiellonian di Kraków, Polandia. Dokumen ini tidak berjudul. Oleh karena itu, astronom Fred Hoyle menulis, "Kita benar-benar tidak tahu bagaimana Copernicus ingin menamai bukunya itu".
Bahkan sebelum karya itu diterbitkan, isinya telah membangkitkan minat. Copernicus telah menerbitkan sebuah rangkuman singkat tentang gagasannya dalam sebuah karya yang disebut Commentariolus. Alhasil, laporan tentang penelitiannya sampai ke Jerman dan Roma. Pada awal tahun 1533, Paus Klemens VII mendengar tentang teori Copernicus. Dan, pada tahun 1536, Kardinal Schönberg menyurati Copernicus, mendesak dia untuk menerbitkan catatan lengkap gagasannya. Georg Joachim Rhäticus, seorang profesor di Universitas Wittenberg di Jerman, begitu penasaran oleh karya Copernicus sampai-sampai ia mengunjungi Copernicus dan akhirnya menghabiskan waktu bersamanya selama dua tahun. Pada tahun 1542, Rhäticus membawa pulang sebuah salinan manuskrip itu ke Jerman dan menyerahkannya kepada seorang tukang cetak bernama Petraeius dan seorang juru tulis sekaligus korektor tipografi bernama Andreas Osiander.
Osiander menjuduli karya itu De revolutionibus orbium coelestium (Mengenai Perputaran Bola-Bola Langit). Dengan mencantumkan frasa “bola-bola langit”, Osiander menyiratkan bahwa karya itu dipengaruhi oleh gagasan Aristoteles. Osiander juga menulis kata pengantar anonim, yang menyatakan bahwa hipotesis dalam buku itu bukanlah artikel tentang iman dan belum tentu benar. Copernicus tidak menerima salinan dari buku yang dicetak itu, yang diubah dan dikompromikan tanpa seizinnya, sampai hanya beberapa jam sebelum kematiannya pada tahun 1543.
c.              Imannuel Kant
Immanuel Kant (lahir di Königsberg, 22 April 1724 – meninggal di Königsberg, 12 Februari 1804 pada umur 79 tahun) adalah seorang filsuf Jerman. Karya Kant yang terpenting adalah Kritik der Reinen Vernunft, 1781. Dalam bukunya ini ia “membatasi pengetahuan manusia”. Atau dengan kata lain “apa yang bisa diketahui manusia.” Ia menyatakan ini dengan memberikan tiga pertanyaan:
Apakah yang bisa kuketahui?
Apakah yang harus kulakukan?
Apakah yang bisa kuharapkan?
Pertanyaan ini dijawab sebagai berikut:
Apa-apa yang bisa diketahui manusia hanyalah yang dipersepsi dengan panca indera. Lain daripada itu merupakan “ilusi” saja, hanyalah ide.
Semua yang harus dilakukan manusia harus bisa diangkat menjadi sebuah peraturan umum. Hal ini disebut dengan istilah “imperatif kategoris”. Contoh: orang sebaiknya jangan mencuri, sebab apabila hal ini diangkat menjadi peraturan umum, maka apabila semua orang mencuri, masyarakat tidak akan jalan.
Yang bisa diharapkan manusia ditentukan oleh akal budinya. Inilah yang memutuskan pengharapan manusia.
Ketiga pertanyaan di atas ini bisa digabung dan ditambahkan menjadi pertanyaan keempat: “Apakah itu manusia?”
Immanuel Kant dilahirkan pada tahun 1724 di Königsberg dari pasangan Johann Georg Kant, seorang ahli pembuat baju zirah (baju besi), dan Anna Regina Kant.[1] Ayahnya kemudian dikenal sebagai ahli perdagangan, namun di tahun 1730-1740, perdangangan di Königsberg mengalami kemerosotan.[1] Hal ini memengaruhi bisnis ayahnya dan membuat keluarga mereka hidup dalam kesulitan.[1] Ibunya meninggal saat Kant berumur 13 tahun, sedangkan ayah Kant meninggal saat dia berumur hampir 22 tahun.[1]
Pendidikan dasarnya ditempuh Kant di Saint George's Hospital School, kemudian dilanjutkan ke Collegium Fredericianum, sebuah sekolah yang berpegang pada ajaran Pietist.[2] Keluarga Kant memang penganut agama Pietist, yaitu agama di Jerman yang mendasarkan keyakinannya pada pengalaman religius dan studi kitab suci.[2] Pada tahun 1740, Kant menempuh pendidikan di University of Königsberg dan mempelajari tentang filosofi, matematika, dan ilmu alam.[2] Untuk meneruskan pendidikannya, dia bekerja sebagai guru privat selama tujuh tahun dan pada masa itu, Kant mempublikasikan beberapa naskah yang berkaitan dengan pertanyaan ilmiah.[2] Pada tahun 1755-1770, Kant bekerja sebagai dosen sambil terus mempublikasikan beberapa naskah ilmiah dengan berbagai macam topik.[2] Gelar profesor didapatkan Kant di Königsberg pada tahun 1770.
d.             Auguste Comte
August Comte atau juga Auguste Comte (Nama panjang: Isidore Marie Auguste François Xavier Comte; lahir di Montpellier, Perancis, 17 Januari 1798 – meninggal di Paris, Perancis, 5 September 1857 pada umur 59 tahun) adalah seorang ilmuwan Perancis yang dijuluki sebagai "bapak sosiologi". Dia dikenal sebagai orang pertama yang mengaplikasikan metode ilmiah dalam ilmu sosial.
Comte lahir di Montpellier, sebuah kota kecil di bagian barat daya dari negara Perancis. Setelah bersekolah disana, ia melanjutkan pendidikannya di Politeknik École di Paris. Politeknik École saat itu terkenal dengan kesetiaannya kepada idealis republikanisme dan filosofi proses. Pada tahun 1818, politeknik tersebut ditutup untuk re-organisasi. Comte pun meninggalkan École dan melanjutkan pendidikannya di sekolah kedokteran di Montpellier.
Tak lama kemudian, ia melihat sebuah perbedaan yang mencolok antara agama Katolik yang ia anut dengan pemikiran keluarga monarki yang berkuasa sehingga ia terpaksa meninggalkan Paris. Kemudian pada bulan Agustus 1817 dia menjadi murid sekaligus sekertaris dari Claude Henri de Rouvroy, Comte de Saint-Simon, yang kemudian membawa Comte masuk ke dalam lingkungan intelek. Pada tahun 1824, Comte meninggalkan Saint-Simon karena lagi-lagi ia merasa ada ketidakcocokan dalam hubungannya.
Saat itu, Comte mengetahui apa yang ia harus lakukan selanjutnya: meneliti tentang filosofi positivisme. Rencananya ini kemudian dipublikasikan dengan nama Plan de travaux scientifiques nécessaires pour réorganiser la société (1822) (Indonesia: Rencana studi ilmiah untuk pengaturan kembali masyarakat). Tetapi ia gagal mendapatkan posisi akademis sehingga menghambat penelitiannya. Kehidupan dan penelitiannya kemudian mulai bergantung pada sponsor dan bantuan finansial dari beberapa temannya.
Ia kemudian menikahi seorang wanita bernama Caroline Massin. Comte dikenal arogan, kejam dan mudah marah sehingga pada tahun 1826 dia dibawa ke sebuah rumah sakit jiwa, tetapi ia kabur sebelum sembuh. Kemudian setelah kondisinya distabilkan oleh Massin, ia mengerjakan kembali apa yang dulu direncanakannya. Namun sayangnya, ia bercerai dengan Massin pada tahun 1842 karena alasan yang belum diketahui. Saat-saat di antara pengerjaan kembali rencananya sampai pada perceraiannya, ia mempublikasikan bukunya yang berjudul Le Cours de Philosophie Positivistic.
Pada tahun 1844, Comte menjalin kasih dengan Clotilde de Vaux, dalam hubungan yang tetap platonis. Setelah Clotilde wafat, kisah cinta ini menjadi quasi-religius. Tak lama setelahnya, Comte, yang merasa dirinya adalah seorang penemu sekaligus seorang nabi dari "agama kemanusiaan" (religion of humanity), menerbitkan bukunya yang berjudul Système de politique positive (1851 - 1854).
Dia wafat di Paris pada tanggal 5 September 1857 dan dimakamkan di Cimetière du Père Lachaise.
Comte melihat satu hukum universal dalam semua ilmu pengetahuan yang kemudian ia sebut sebagai 'hukum tiga fase'. Melalui hukumnya ia mulai dikenal di seluruh wilayah berbahasa Inggris (English-speaking world); menurutnya, masyarakat berkembang melalui tiga fase: Teologi, Metafisika, dan tahap positif (atau sering juga disebut "tahap ilmiah").
Fase Teologi dilihat dari prespektif abad ke-19 sebagai permulaan abad pencerahan, dimana kedudukan seorang manusia dalam masyarakat dan pembatasan norma dan nilai manusia didapatkan didasari pada perintah Tuhan. Meskipun memiliki sebutan yang sama, fase Metafisika Comte sangat berbeda dengan teori Metafisika yang dikemukakan oleh Aristoteles atau ilmuwan Yunani kuno lainnya; pemikiran Comte berakar pada permasalahan masyarakat Perancis pasca-revolusi PerancisRevolusi. Fase Metafisika ini merupakan justifikasi dari "hak universal" sebagai hal yang pada [atas] suatu wahana [yang] lebih tinggi dibanding otoritas tentang segala [penguasa/penggaris] manusia untuk membatalkan perintah lalu, walaupun berkata [hak/ kebenaran] tidaklah disesuaikan kepada yang suci di luar semata-mata kiasan. Apa yang ia mengumumkan dengan istilah nya Tahap yang ilmiah, Yang menjadi nyata setelah kegagalan revolusi dan [tentang] Napoleon, orang-orang bisa temukan solusi ke permasalahan sosial dan membawa [mereka/nya] ke dalam kekuatan di samping proklamasi hak azasi manusia atau nubuatan kehendak Tuhan. Mengenai ini ia adalah serupa untuk Karl Marx Dan Jeremy Bentham. Karena waktu nya, ini gagasan untuk suatu Tahap ilmiah telah dipertimbangkan terbaru, walaupun dari suatu sudut pandang kemudiannya [itu] adalah [yang] terlalu derivative untuk ilmu fisika klasik dan sejarah akademis.
Hukum universal lain [yang] ia [memanggil/hubungi] ' hukum yang seperti ensiklopedi'. Dengan kombinasi hukum ini, Comte mengembang;kan suatu penggolongan [yang] hirarkis dan sistematis dari semua ilmu pengetahuan, termasuk ilmu fisika tidak tersusun teratur ( ilmu perbintangan, ilmu pengetahuan bumi dan ilmu kimia) dan ilmu fisika organik ( biologi dan untuk pertama kali, bentuk badan sociale, dinamai kembali kemudiannya sociologie).
Ini gagasan untuk suatu science—not khusus ras manusia, [yang] bukan metaphysics—for sosial adalah terkemuka abad yang 19th dan tidak unik ke Comte. Ambitious—Many akan kata[kan grandiose—way yang Comte membayangkan tentangnya, bagaimanapun, adalah unik.
Comte lihat ilmu pengetahuan baru ini, sosiologi, [seperti;sebagai;ketika] [yang] terbesar dan yang ter]akhir dari semua ilmu pengetahuan, apa yang itu akan meliputi semua lain ilmu pengetahuan, dan yang akan mengintegrasikan dan menghubungkan penemuan mereka ke dalam suatu [yang] utuh kompak.
Comte’S penjelasan Filosofi yang positif memperkenalkan hubungan yang penting antar[a] teori, praktik dan pemahaman manusia dunia. Pada [atas] halaman 27 yang 1855 [yang] mencetak Harriet Martineau’S terjemahan Filosofi Auguste [yang] Yang positif Comte, kita lihat pengamatan nya bahwa, “ Jika adalah benar bahwa tiap-tiap teori harus didasarkan diamati fakta, [itu] dengan sama benar yang fakta tidak bisa diamati tanpa bimbingan beberapa teori. Tanpa . seperti (itu) bimbingan, fakta [kita/kami] akan bersifat tanpa buah dan tak teratur; kita tidak bisa mempertahankan [mereka/nya]: sebagian terbesar kita tidak bisa genap merasa [mereka/nya]. ( Comte, A. ( 1974 cetak ulang). Filosofi yang positif Auguste Comte [yang] dengan [cuma-cuma/bebas] yang diterjemahkan dan yang dipadatkan oleh Harriet Martineau. New York, NY: ADALAH Tekanan. ( Pekerjaan asli menerbitkan 1855, New York, NY: Calvin Blanchard, p. 27.)
Ia coined kata[an] "altruism" untuk mengacu pada apa yang ia percaya untuk menjadi kewajiban moral individu untuk melayani (orang) yang lain dan menempatkan minat mereka di atas diri sendiri. Ia menentang;kan [itu] gagasan untuk [hak/ kebenaran] individu, pemeliharaan yang mereka tidaklah konsisten dengan etis diharapkan ini ( Ini ( Catechisme Positiviste).
[Seperti] yang telah menyebutkan, Comte merumuskan hukum tiga langkah-langkah, salah satu [dari] teori yang pertama evolutionism yang sosial: pengembangan manusia itu ( kemajuan sosial) maju dari theological langkah, di mana alam[i] secara dongengan dipahami/dikandung dan orang [laki-laki] mencari penjelasan [dari;ttg] gejala alami dari mahluk hal-hal yang gaib, melalui/sampai metaphysical langkah di mana alam[i] telah membayangkan sebagai hasil mengaburkan kekuatan dan orang [laki-laki] mencari penjelasan [dari;ttg] gejala alami dari [mereka/nya] sampai yang akhir [itu] Positive Langkah di mana semua abstrak dan mengaburkan kekuatan dibuang, dan gejala alami diterangkan oleh hubungan tetap mereka. Kemajuan ini dipaksa melalui/sampai pengembangan pikiran manusia, dan meningkat(kan) aplikasi pikiran, pemikiran dan logika kepada pemahaman dunia.
Di (dalam) Seumur hidup Comte's, pekerjaan nya kadang-kadang dipandang secara skeptis sebab ia telah mengangkat Paham positifisme untuk a agama dan yang telah nama [sen]dirinya Sri Paus Paham positifisme. Ia coined istilah " sosiologi" untuk menandakan ilmu pengetahuan masyarakat yang baru]]. Ia mempunyai lebih awal menggunakan ungkapan [itu], " ilmu fisika sosial," untuk mengacu pada ilmu pengetahuan masyarakat yang positif; tetapi sebab (orang) yang lain, [yang] khususnya Orang statistik Belgia Adolphe Quetelet, dimulai yang telah untuk menggunakan itu memasukkan [adalah] suatu maksud/arti berbeda, Comte merasa[kan kebutuhan [itu] untuk menemukan [itu] pembentukan kata baru, " sosiologi," a hybrid tentang Latin " socius" (" teman") dan Yunani"?????" ( Logo, " Kata[An]").
Comte biasanya dihormati [ketika;seperti] lebih dulu Sarjana sosiologi barat ( Ibn Khaldun setelah didahului dia di (dalam) Timur dengan hampir empat berabad-abad). Penekanan Comte's pada [atas] saling behubungan [dari;ttg] unsur-unsur sosial adalah suatu pertanda [dari;ttg] modern functionalism. Meskipun demikian, [seperti/ketika] dengan (orang) yang lain banyak orang [dari;ttg] Waktu Comte's, unsur-unsur [yang] tertentu [dari;ttg] pekerjaan nya kini dipandang sebagai tak ilmiah dan eksentrik, dan visi agung sosiologi nya [sebagai/ketika] benda hiasan di tengah meja dari semua ilmu pengetahuan belum mengakar.
Penekanan nya pada [atas] suatu kwantitatif, mathematical basis untuk pengambilan keputusan tinggal dengan [kita/kami] hari ini. [Ini] merupakan suatu pondasi bagi dugaan Paham positifisme yang modern, analisa statistik kwantitatif modern, dan pengambilan keputusan bisnis. Uraian nya hubungan siklis yang berlanjut antar[a] teori dan praktik dilihat di sistem bisnis modern Total Manajemen Berkwalitas dan Peningkatan Mutu Berlanjut [di mana/jika] advokat menguraikan suatu siklus teori [yang] berlanjut dan praktik melalui/sampai four-part siklus rencana,, cek, dan bertindak. Di samping pembelaan analisis kuantitatif nya, Comte lihat suatu batas dalam kemampuan nya untuk membantu menjelaskan gejala sosial.

Pertanyaan:
1.       Bisakah statement Bapak mengenai saya relatif terhadap ruang dan waktu dibuktikan secara ilmiah?
 

Philoo's Psychoo Addict Copyright © 2012 Design by Ipietoon Blogger Template