Nama : Ninda Argafani
NIM : 12709251053
Kelas : PM C Pasca Sarjana UNY
Blog : Philoospychoo Blog (klik saja tulisan disamping)
Ini adalah renungan saya terhadap Elegi Menggapai Dimensi sekaligus sebagai pembuka renungan saya terhadap Elegi Menggapai Bijak, Elegi Menggapai Refleksi diri dan mungkin sebagai renungan pembuka bagi elegi-elegi yang lain.
Sebelumnya dengan kerendahan hati, saya ingin meminta maaf atas kelancangan saya dalam refleksi kemarin. Saya sudah dengan berani menghujat bapak dengan memposisikan saya sebagai Guru yang menggapai kesempatan dalam Elegi Guru Menggapai Kesempatan sekaligus murid cerdas yang bertanya kepada guru matematika-nya dalam Elegi Permintaan Murid Cerdas Kepada Guru Matematika (padahal saya tidak sedikitpun cerdas).
Ijinkan saya mengutip salah satu dialog antara Dewabrata (Bhisma) dengan ayahnya Prabu Santanu dalam film Mahabarata:
“Mengapa kamu bisa sebijak ini di usiamu yang muda anakku?” Tanya Prabu Santanu
"Dengan ilmu manusia akan menjadi rendah hati, dengan rendah hati manusia akan menjadi bijak, dengan bijak manusia dapat mencari uang, dengan uang manusia dapat membantu sesama" Jawab Dewabrata
Sangat berkaitan antara bijak dengan dimensi. saya melihat Dr. Marsigit disini menggambarkan dimensi sebagai sebuah strata. Sangat menarik membicarakan hal ini, karena saya juga sedang berusaha menggapai dimensi saya. sehingga saya bisa menjadi lebih bijak dalam setiap tingkah dan laku baik itu duniawi dan ukhrawinya.
Saya lebih nyaman jika dimensi tidak hanya dilihat dari kacamata strata, tetapi seperti yang saya tulis dalam refleksi pertama saya bahwa dimensi yang sebenarnya adalah dimensi pikiran dan dimensi hati. Jika kedua dimensi ini disatukan maka akan terbentuk satu dimensi baru yaitu strata. seperti yang bapak gambarkan sekarang ini.
Dapat dilihat dari dialog diatas bahwa batu lebih rendah dari tumbuhan, tumbuhan lebih rendah dari binatang, binatang lebih rendah dari manusia satu, manusia satu lebih rendah dari manusia berilmu, manusia berilmu lebih rendah dari manusia bernurani dan berilmu. Saya tidak akan menjabarkan hubungan antara batu, hewan, tumbuhan dan manusia karena sudah jelas dari strata dimensinya baik pikiran, ilmu dan hati. Tetapi saya ingin menjabarkan sedikit pandangan saya menganai hubungan dimensi-dimensi dari manusia I, manusia berilmu, dan manusia bernurani dan berilmu.
Saya kutip kembali salah satu dialog dari maharabata. bahwa ilmu adalah sumber segalanya. Dari kutipan diatas dapat saya simpulkan bahwa hakekatnya ilmu dalam arti seluas-luasnya adalah untuk membantu manusia lebih mengenali dirinya sehingga manusia tersebut bisa berguna bagi manusia-manusia yang lain. Dalam Al-Quran juga banyak disinggung mengenai ilmu. Karena Allah menyukai ilmu, maka Ilmu tertinggi yaitu ilmu absolut, ilmu milik Allah. Al-Qur’an adalah setitik dari ilmu yang Allah miliki. Oleh karena itu ilmu sangatlah penting.
Dengan ilmu manusia dapat merendahkan hatinya. Hakekat ini yang sebenarnya terkandung dalam penggalan Q.S 59:11 “… bahwa Allah akan meninggikan orang-orang yang berilmu beberapa dearajat …”. Mengapa bukan orang-orang yang berilmu tinggi? Mengapa hanya beberapa derajat?
Menurut saya karena dengan ilmu manusia dapat merendahkan hatinya. Itu jawaban yang tepat untuk saat ini yang ada di dalam benak saya. Coba kita tengok ke dalam diri kita sendiri sebelum membangdingkan ke orang lain. Pernahkah anda berpikir langsung tanpa merasakan? Tidak mungkin bukan bahwa kita hanya berpikir tanpa merasakan?. Manusia pada hakekatnya merasakan kejadian disekitarnya dengan hatinya, lalu menimbangnya dengan pikiran. Jika dirasa pikiran dan hatinya sudah menyatu, maka itu jawaban dari fenomena yang tadi manusia temui. Itu mengapa Allah hanya menyebut beberapa derajat, karena Allah melihat manusia bukan dari setinggi apa manusia itu belajar untuk menggapai ilmu-Nya. Tetapi bagaimana manusia itu belajar untuk menundukkan hatinya dengan ilmu yang serendah-rendahnya.
Saya terharu dengan kata-kata Dr. Marsigit waktu perkuliahan kamis kemarin, beliau mengatakan saya terlalu menginginkan sesuatu yang besar, demikian pula Dr. Jamilah mengatakan kepada saya dalam proses belajar tidak mungkin sekali jadi, butuh proses berulang-ulang untuk menggapainya. Maka saya mengatakan kepada diri saya sendiri bahwa setinggi-tingginya ilmu yang kita punya, tidak akan mempengaruhi kerendahan hati manusianya. Itu mengapa Allah menyebut beberapa derajat saja. Dimensi hati dan dimensi pikiran sangat jauh jarakanya. Jika Dr. Marsigit mengatakan “jarak antara takdir dan ikhtiar sebagai filsafat beliau”. Maka “Jarak antara dimensi hati dan dimensi pikiran adalah nafsu manusia” sebagai filsafat saya. Bolehkah saya menyebutnya seperti itu Guru?
Ilmu dalam arti sempit adalah ilmu yang sekarang kita pelajari di bangku sekolah atau ilmu yang secara nyata manusia genggam saat ini pada tingkat kesadarannya. Secara sadar manusia merasa dirinya sudah berilmu dan merasa sudah menggenggamnya, tapi menurut ilmu dalam arti luas manusia itu masih jauh jangkauannya, bahkan tidak ada sekuku hitamnya, apalagi menjangkau dimensi ilmu. Sangat jauh sekali. Mengapa demikian? Jawabannya adalah dimensi hati dan dimensi pikiran. Jika manusia hanya bisa menggunakan ilmu yang dia genggam saat ini pada tingkat kesadarannya maka manusia itu baru menggenggam ilmu sebatas kulit arinya. Lalu, jika manusia mulai merasakan ilmu yang dia genggam tadi, maka manusia itu baru menyentuh ilmu setengah dari seperempatnya saja bahkan masih jauh. Jika manusia memikirkan ilmu yang dia genggam tadi, maka manusia itu baru menyentuh ilmu setengah dari sepertiga ilmu. Namun, jika manusia dapat menyelaraskan antara dimensi hati dan dimensi pikirannya dalam merasakan dan memikirkan ilmu, maka manusia sedikit jauh dapat dikatakan menyelami ilmunya. Dan itu kembali pada sejauh apa manusia menyadari dimensi hati dan dimensi pikirannya. Karena hal itu nantinya yang akan menentukan pada dimensi strata mana manusia itu akan menduduki posisinya. Apakah pada manusia satu? Atau pada manusia berilmu? Ataukah pada manusia bernurani dan berilmu?
Jika manusia hanya menggenggam ilmu dari kulit arinya saja, maka manusia itu berada pada manusia satu. Jika manusia itu hanya menggunakan hati atau pikirannya saja, maka cukuplah manusia itu sebagai manusia berilmu. Dan apabila manusia itu menggunakan hati dan pikirannya, maka itulah manusia benurani dan berilmu.
Manusia I, manusia berilmu dan manusia bernurani dan berilmu bisa dikatakan sebagai hubungan antara manusia satu dengan manusia yang lain. Tapi saya pribadi lebih menikmati jika hubungan antara manusia I, manusia berilmu dan manusia bernurani serta berilmu sebagai satu kesatuan yaitu sebuah evolusi dari diri manusianya itu sendiri untuk menggapai Tuhannya.
Apakah anda bingung? Pesan guru saya Dr. Marsigit ikuti saja kata hatimu, berhenti berfikir, kembali kepada Tuhanmu dan tidurlah.
Setinggi-tingginya bahasa analogku, tidak akan mampu menggambarkan apa yang ada di dalam pikiranku. Semoga apa yang saya maksudkan jelas. Jika ada banyak salah, saya mohon dikoreksi.
Indahnya berbagi ilmu : komentar ini juga saya posting dalam blog saya Philoospsychoo Blog (klik disini) untuk mengunjungi blog saya.
NIM : 12709251053
Kelas : PM C Pasca Sarjana UNY
Blog : Philoospychoo Blog (klik saja tulisan disamping)
Ini adalah renungan saya terhadap Elegi Menggapai Dimensi sekaligus sebagai pembuka renungan saya terhadap Elegi Menggapai Bijak, Elegi Menggapai Refleksi diri dan mungkin sebagai renungan pembuka bagi elegi-elegi yang lain.
Sebelumnya dengan kerendahan hati, saya ingin meminta maaf atas kelancangan saya dalam refleksi kemarin. Saya sudah dengan berani menghujat bapak dengan memposisikan saya sebagai Guru yang menggapai kesempatan dalam Elegi Guru Menggapai Kesempatan sekaligus murid cerdas yang bertanya kepada guru matematika-nya dalam Elegi Permintaan Murid Cerdas Kepada Guru Matematika (padahal saya tidak sedikitpun cerdas).
Ijinkan saya mengutip salah satu dialog antara Dewabrata (Bhisma) dengan ayahnya Prabu Santanu dalam film Mahabarata:
“Mengapa kamu bisa sebijak ini di usiamu yang muda anakku?” Tanya Prabu Santanu
"Dengan ilmu manusia akan menjadi rendah hati, dengan rendah hati manusia akan menjadi bijak, dengan bijak manusia dapat mencari uang, dengan uang manusia dapat membantu sesama" Jawab Dewabrata
Sangat berkaitan antara bijak dengan dimensi. saya melihat Dr. Marsigit disini menggambarkan dimensi sebagai sebuah strata. Sangat menarik membicarakan hal ini, karena saya juga sedang berusaha menggapai dimensi saya. sehingga saya bisa menjadi lebih bijak dalam setiap tingkah dan laku baik itu duniawi dan ukhrawinya.
Saya lebih nyaman jika dimensi tidak hanya dilihat dari kacamata strata, tetapi seperti yang saya tulis dalam refleksi pertama saya bahwa dimensi yang sebenarnya adalah dimensi pikiran dan dimensi hati. Jika kedua dimensi ini disatukan maka akan terbentuk satu dimensi baru yaitu strata. seperti yang bapak gambarkan sekarang ini.
Dapat dilihat dari dialog diatas bahwa batu lebih rendah dari tumbuhan, tumbuhan lebih rendah dari binatang, binatang lebih rendah dari manusia satu, manusia satu lebih rendah dari manusia berilmu, manusia berilmu lebih rendah dari manusia bernurani dan berilmu. Saya tidak akan menjabarkan hubungan antara batu, hewan, tumbuhan dan manusia karena sudah jelas dari strata dimensinya baik pikiran, ilmu dan hati. Tetapi saya ingin menjabarkan sedikit pandangan saya menganai hubungan dimensi-dimensi dari manusia I, manusia berilmu, dan manusia bernurani dan berilmu.
Saya kutip kembali salah satu dialog dari maharabata. bahwa ilmu adalah sumber segalanya. Dari kutipan diatas dapat saya simpulkan bahwa hakekatnya ilmu dalam arti seluas-luasnya adalah untuk membantu manusia lebih mengenali dirinya sehingga manusia tersebut bisa berguna bagi manusia-manusia yang lain. Dalam Al-Quran juga banyak disinggung mengenai ilmu. Karena Allah menyukai ilmu, maka Ilmu tertinggi yaitu ilmu absolut, ilmu milik Allah. Al-Qur’an adalah setitik dari ilmu yang Allah miliki. Oleh karena itu ilmu sangatlah penting.
Dengan ilmu manusia dapat merendahkan hatinya. Hakekat ini yang sebenarnya terkandung dalam penggalan Q.S 59:11 “… bahwa Allah akan meninggikan orang-orang yang berilmu beberapa dearajat …”. Mengapa bukan orang-orang yang berilmu tinggi? Mengapa hanya beberapa derajat?
Menurut saya karena dengan ilmu manusia dapat merendahkan hatinya. Itu jawaban yang tepat untuk saat ini yang ada di dalam benak saya. Coba kita tengok ke dalam diri kita sendiri sebelum membangdingkan ke orang lain. Pernahkah anda berpikir langsung tanpa merasakan? Tidak mungkin bukan bahwa kita hanya berpikir tanpa merasakan?. Manusia pada hakekatnya merasakan kejadian disekitarnya dengan hatinya, lalu menimbangnya dengan pikiran. Jika dirasa pikiran dan hatinya sudah menyatu, maka itu jawaban dari fenomena yang tadi manusia temui. Itu mengapa Allah hanya menyebut beberapa derajat, karena Allah melihat manusia bukan dari setinggi apa manusia itu belajar untuk menggapai ilmu-Nya. Tetapi bagaimana manusia itu belajar untuk menundukkan hatinya dengan ilmu yang serendah-rendahnya.
Saya terharu dengan kata-kata Dr. Marsigit waktu perkuliahan kamis kemarin, beliau mengatakan saya terlalu menginginkan sesuatu yang besar, demikian pula Dr. Jamilah mengatakan kepada saya dalam proses belajar tidak mungkin sekali jadi, butuh proses berulang-ulang untuk menggapainya. Maka saya mengatakan kepada diri saya sendiri bahwa setinggi-tingginya ilmu yang kita punya, tidak akan mempengaruhi kerendahan hati manusianya. Itu mengapa Allah menyebut beberapa derajat saja. Dimensi hati dan dimensi pikiran sangat jauh jarakanya. Jika Dr. Marsigit mengatakan “jarak antara takdir dan ikhtiar sebagai filsafat beliau”. Maka “Jarak antara dimensi hati dan dimensi pikiran adalah nafsu manusia” sebagai filsafat saya. Bolehkah saya menyebutnya seperti itu Guru?
Ilmu dalam arti sempit adalah ilmu yang sekarang kita pelajari di bangku sekolah atau ilmu yang secara nyata manusia genggam saat ini pada tingkat kesadarannya. Secara sadar manusia merasa dirinya sudah berilmu dan merasa sudah menggenggamnya, tapi menurut ilmu dalam arti luas manusia itu masih jauh jangkauannya, bahkan tidak ada sekuku hitamnya, apalagi menjangkau dimensi ilmu. Sangat jauh sekali. Mengapa demikian? Jawabannya adalah dimensi hati dan dimensi pikiran. Jika manusia hanya bisa menggunakan ilmu yang dia genggam saat ini pada tingkat kesadarannya maka manusia itu baru menggenggam ilmu sebatas kulit arinya. Lalu, jika manusia mulai merasakan ilmu yang dia genggam tadi, maka manusia itu baru menyentuh ilmu setengah dari seperempatnya saja bahkan masih jauh. Jika manusia memikirkan ilmu yang dia genggam tadi, maka manusia itu baru menyentuh ilmu setengah dari sepertiga ilmu. Namun, jika manusia dapat menyelaraskan antara dimensi hati dan dimensi pikirannya dalam merasakan dan memikirkan ilmu, maka manusia sedikit jauh dapat dikatakan menyelami ilmunya. Dan itu kembali pada sejauh apa manusia menyadari dimensi hati dan dimensi pikirannya. Karena hal itu nantinya yang akan menentukan pada dimensi strata mana manusia itu akan menduduki posisinya. Apakah pada manusia satu? Atau pada manusia berilmu? Ataukah pada manusia bernurani dan berilmu?
Jika manusia hanya menggenggam ilmu dari kulit arinya saja, maka manusia itu berada pada manusia satu. Jika manusia itu hanya menggunakan hati atau pikirannya saja, maka cukuplah manusia itu sebagai manusia berilmu. Dan apabila manusia itu menggunakan hati dan pikirannya, maka itulah manusia benurani dan berilmu.
Manusia I, manusia berilmu dan manusia bernurani dan berilmu bisa dikatakan sebagai hubungan antara manusia satu dengan manusia yang lain. Tapi saya pribadi lebih menikmati jika hubungan antara manusia I, manusia berilmu dan manusia bernurani serta berilmu sebagai satu kesatuan yaitu sebuah evolusi dari diri manusianya itu sendiri untuk menggapai Tuhannya.
Apakah anda bingung? Pesan guru saya Dr. Marsigit ikuti saja kata hatimu, berhenti berfikir, kembali kepada Tuhanmu dan tidurlah.
Setinggi-tingginya bahasa analogku, tidak akan mampu menggambarkan apa yang ada di dalam pikiranku. Semoga apa yang saya maksudkan jelas. Jika ada banyak salah, saya mohon dikoreksi.
Indahnya berbagi ilmu : komentar ini juga saya posting dalam blog saya Philoospsychoo Blog (klik disini) untuk mengunjungi blog saya.