Saturday, September 29, 2012

Renungan #II : Elegi Menggapai Dimensi

0 comments
Nama : Ninda Argafani
NIM : 12709251053
Kelas : PM C Pasca Sarjana UNY
Blog : Philoospychoo Blog (klik saja tulisan disamping)

Ini adalah renungan saya terhadap Elegi Menggapai Dimensi sekaligus sebagai pembuka renungan saya terhadap Elegi Menggapai Bijak, Elegi Menggapai Refleksi diri dan mungkin sebagai renungan pembuka bagi elegi-elegi yang lain.

Sebelumnya dengan kerendahan hati, saya ingin meminta maaf atas kelancangan saya dalam refleksi kemarin. Saya sudah dengan berani menghujat bapak dengan memposisikan saya sebagai Guru yang menggapai kesempatan dalam Elegi Guru Menggapai Kesempatan sekaligus murid cerdas yang bertanya kepada guru matematika-nya dalam Elegi Permintaan Murid Cerdas Kepada Guru Matematika (padahal saya tidak sedikitpun cerdas).

Ijinkan saya mengutip salah satu dialog antara Dewabrata (Bhisma) dengan ayahnya Prabu Santanu dalam film Mahabarata:
“Mengapa kamu bisa sebijak ini di usiamu yang muda anakku?” Tanya Prabu Santanu
"Dengan ilmu manusia akan menjadi rendah hati, dengan rendah hati manusia akan menjadi bijak, dengan bijak manusia dapat mencari uang, dengan uang manusia dapat membantu sesama" Jawab Dewabrata

Sangat berkaitan antara bijak dengan dimensi. saya melihat Dr. Marsigit disini menggambarkan dimensi sebagai sebuah strata. Sangat menarik membicarakan hal ini, karena saya juga sedang berusaha menggapai dimensi saya. sehingga saya bisa menjadi lebih bijak dalam setiap tingkah dan laku baik itu duniawi dan ukhrawinya.

Saya lebih nyaman jika dimensi tidak hanya dilihat dari kacamata strata, tetapi seperti yang saya tulis dalam refleksi pertama saya bahwa dimensi yang sebenarnya adalah dimensi pikiran dan dimensi hati. Jika kedua dimensi ini disatukan maka akan terbentuk satu dimensi baru yaitu strata. seperti yang bapak gambarkan sekarang ini.

Dapat dilihat dari dialog diatas bahwa batu lebih rendah dari tumbuhan, tumbuhan lebih rendah dari binatang, binatang lebih rendah dari manusia satu, manusia satu lebih rendah dari manusia berilmu, manusia berilmu lebih rendah dari manusia bernurani dan berilmu. Saya tidak akan menjabarkan hubungan antara batu, hewan, tumbuhan dan manusia karena sudah jelas dari strata dimensinya baik pikiran, ilmu dan hati. Tetapi saya ingin menjabarkan sedikit pandangan saya menganai hubungan dimensi-dimensi dari manusia I, manusia berilmu, dan manusia bernurani dan berilmu.

Saya kutip kembali salah satu dialog dari maharabata. bahwa ilmu adalah sumber segalanya. Dari kutipan diatas dapat saya simpulkan bahwa hakekatnya ilmu dalam arti seluas-luasnya adalah untuk membantu manusia lebih mengenali dirinya sehingga manusia tersebut bisa berguna bagi manusia-manusia yang lain. Dalam Al-Quran juga banyak disinggung mengenai ilmu. Karena Allah menyukai ilmu, maka Ilmu tertinggi yaitu ilmu absolut, ilmu milik Allah. Al-Qur’an adalah setitik dari ilmu yang Allah miliki. Oleh karena itu ilmu sangatlah penting.

Dengan ilmu manusia dapat merendahkan hatinya. Hakekat ini yang sebenarnya terkandung dalam penggalan Q.S 59:11 “… bahwa Allah akan meninggikan orang-orang yang berilmu beberapa dearajat …”. Mengapa bukan orang-orang yang berilmu tinggi? Mengapa hanya beberapa derajat?

Menurut saya karena dengan ilmu manusia dapat merendahkan hatinya. Itu jawaban yang tepat untuk saat ini yang ada di dalam benak saya. Coba kita tengok ke dalam diri kita sendiri sebelum membangdingkan ke orang lain. Pernahkah anda berpikir langsung tanpa merasakan? Tidak mungkin bukan bahwa kita hanya berpikir tanpa merasakan?. Manusia pada hakekatnya merasakan kejadian disekitarnya dengan hatinya, lalu menimbangnya dengan pikiran. Jika dirasa pikiran dan hatinya sudah menyatu, maka itu jawaban dari fenomena yang tadi manusia temui. Itu mengapa Allah hanya menyebut beberapa derajat, karena Allah melihat manusia bukan dari setinggi apa manusia itu belajar untuk menggapai ilmu-Nya. Tetapi bagaimana manusia itu belajar untuk menundukkan hatinya dengan ilmu yang serendah-rendahnya.

Saya terharu dengan kata-kata Dr. Marsigit waktu perkuliahan kamis kemarin, beliau mengatakan saya terlalu menginginkan sesuatu yang besar, demikian pula Dr. Jamilah mengatakan kepada saya dalam proses belajar tidak mungkin sekali jadi, butuh proses berulang-ulang untuk menggapainya. Maka  saya mengatakan kepada diri saya sendiri bahwa setinggi-tingginya ilmu yang kita punya, tidak akan mempengaruhi kerendahan hati manusianya. Itu mengapa Allah menyebut beberapa derajat saja. Dimensi hati dan dimensi pikiran sangat jauh jarakanya. Jika Dr. Marsigit mengatakan “jarak antara takdir dan ikhtiar sebagai filsafat beliau”. Maka “Jarak antara dimensi hati dan dimensi pikiran adalah nafsu manusia” sebagai filsafat saya. Bolehkah saya menyebutnya seperti itu Guru?

Ilmu dalam arti sempit adalah ilmu yang sekarang kita pelajari di bangku sekolah atau ilmu yang secara nyata manusia genggam saat ini pada tingkat kesadarannya. Secara sadar manusia merasa dirinya sudah berilmu dan merasa sudah menggenggamnya, tapi menurut ilmu dalam arti luas manusia itu masih jauh jangkauannya, bahkan tidak ada sekuku hitamnya, apalagi menjangkau dimensi ilmu. Sangat jauh sekali. Mengapa demikian? Jawabannya adalah dimensi hati dan dimensi pikiran. Jika manusia hanya bisa menggunakan ilmu yang dia genggam saat ini pada tingkat kesadarannya maka manusia itu baru menggenggam ilmu sebatas kulit arinya. Lalu, jika manusia mulai merasakan ilmu yang dia genggam tadi, maka manusia itu baru menyentuh ilmu setengah dari seperempatnya saja bahkan masih jauh. Jika manusia memikirkan ilmu yang dia genggam tadi, maka manusia itu baru menyentuh ilmu setengah dari sepertiga ilmu. Namun, jika manusia dapat menyelaraskan antara dimensi hati dan dimensi pikirannya dalam merasakan dan memikirkan ilmu, maka manusia sedikit jauh dapat dikatakan menyelami ilmunya. Dan itu kembali pada sejauh apa manusia menyadari dimensi hati dan dimensi pikirannya. Karena hal itu nantinya yang akan menentukan pada dimensi strata mana manusia itu akan menduduki posisinya. Apakah pada manusia satu? Atau pada manusia berilmu? Ataukah pada manusia bernurani dan berilmu?
Jika manusia hanya menggenggam ilmu dari kulit arinya saja, maka manusia itu berada pada manusia satu. Jika manusia itu hanya menggunakan hati atau pikirannya saja, maka cukuplah manusia itu sebagai manusia berilmu. Dan apabila manusia itu menggunakan hati dan pikirannya, maka itulah manusia benurani dan berilmu.

Manusia I, manusia berilmu dan manusia bernurani dan berilmu bisa dikatakan sebagai hubungan antara manusia satu dengan manusia yang lain. Tapi saya pribadi lebih menikmati jika hubungan antara manusia I, manusia berilmu dan manusia bernurani serta berilmu sebagai satu kesatuan yaitu sebuah evolusi dari diri manusianya itu sendiri untuk menggapai Tuhannya.

Apakah anda bingung? Pesan guru saya Dr. Marsigit ikuti saja kata hatimu, berhenti berfikir, kembali kepada Tuhanmu dan tidurlah.

Setinggi-tingginya bahasa analogku, tidak akan mampu menggambarkan apa yang ada di dalam pikiranku. Semoga apa yang saya maksudkan jelas. Jika ada banyak salah, saya mohon dikoreksi.

Indahnya berbagi ilmu : komentar ini juga saya posting dalam blog saya Philoospsychoo Blog (klik disini) untuk mengunjungi blog saya.

Thursday, September 27, 2012

Refleksi #2 Menggapai Ketidaktersesatan (Jarak antara Takdir dan Ikhtiar)

0 comments




Refleksi II : Kuliah Dr. Masigit

Menggapai Ketidaktersesatan
(Jarak antara Takdir dan Ikhtiar)


Oleh:

Ninda Argafani (12709251053)

PM C Pasca Sarjana UNY





 

Prolog:

sebelumnya saya ingin memberikan surat kepada Dr. Marsigit dan saya meminta maaf jika dalam refleksi kali ini saya lancang atau kurang sopan kepada Bapak. Dan jika ternyata dalam refleksi ini saya salah atau tersesat, tolong jangan tinggalkan saya. Tolong tunjukkan jalan dimana seharusnya saya dapat membentuk jati diri filsafat dalam diri saya.

Dear Dr. Marsigit

Terima kasih sudah menampilkan refleksi perdana saya sehingga saya bisa tahu pendapat bapak dan teman-teman, dan bisa saya jadikan perbaikan dalam diri saya. Dr. Marsigit, dalam refleksi saya masih ada pertanyaan yang menurut saya masih ganjil jawabannya. Saya tidak lari, saya sengaja tidak mengkomen di blog bapak karena saya ingin semua netral dulu, dan saya ingin melihat pendapat teman-teman dulu sebelumnya.

Dr. Marsigit, saya meminta ijin karena saya ingin menggunakan salah satu karakter yang ada dalam elegi Bapak.

Guru, saya hanya ingin mempunyai jati diri filsafat saya sendiri seperti yang guru harapkan. Bahwa guru ingin saya dan teman-teman mampun mengenali dan membentuk filsafat kami, khususnya saya. Tolong, ijinkanlah saya menggapai filsafat saya melalu kontradiksi-kontradiksi maupun kesesatan-kesasatan yang mungkin saya temui. Sekali lagi tolong jangan tinggalkan saya guru!

Guru menggapai kesempatan - galau:

Guru, saat ini saya sedang sakit. Mungkin bisa dikatakan bahwa saya dalam keadaan kritis. Apakah ini karena doa guru yang terkabul lewat candaan guru minggu lalu? Guru mengatakan bahwa guru menyaksikan saya sedang dalam keadaan tidak sehat.

Guru, apakah saya salah jika saya ingin menggapai filsafat saya dari ketakutan-ketakutan yang saya alami? Dari kontradiksi-kontradiksi yang saya lihat dan alami? Dan dari rasa penasaran saya yang besar?

Jika saya tidak salah, lalu mengapa guru menutup saya dengan kuasa guru dan menjatuhkan sifat sakit pada diri saya? Saya sangat sedih guru! Saya yang awalnya begitu bersemangat dan berapi-api karena dalam darah saya telah mengalir jiwa filsafat meski baru berupa bibit-bibit. Tiba-tiba seketika bibit-bibit itu membeku. Saya benar-benar buntu guru.

Saya membutuhkan teman diskusi guru. Untuk saat ini, posisi saya sama dengan Elegi guru yang berjudul Elegi Permintaan si Murid Cerdas kepada Guru Matematika. Mungkin saya tidak secerdas apa yang guru gambarkan disana. Tetapi saat ini hal itulah yang ingin saya sampaikan kepada guru.

Guru, terima kasih sudah menjadi apa yang saya mau seperti dalam Elegi tersebut. Tetapi ada yang masih mengganjal dalam otak saya. Saya ingin bertanya kepada guru, mengapa saya tidak merasa bahwa guru memfasilitasi ide-ide saya? Mengapa yang guru lakukan sangat kontradiksi dengan apa yang guru tuliskan dalam elegi? Baik itu Elegi Guru Menggapai Kesempatan dan Elegi Wawancara Dr. Marsigit, MA Bidang Pendidikan. Mengapa guru tidak memberikan kesempatan kepada saya (murid) seperti yang guru ajarkan? Bukankah guru berpesan kepada kami untuk tidak menggunakan kekuasaan semena-mena? Lalu mengapa guru melakukannya dengan menimpakan sifat sakit kepada saya?

Saya benar-benar tersesat, maafkan saya guru karena saya telah lancang. Tolong biarkan ketersesatan ini saya keluhkan. Guru, saya bangga dengan guru, karena diluar sana guru sangat dikenal oleh orang-orang asing itu. Saya ingin menjadi seperti guru suatu saat nanti. Tapi masih ada yang membebani otak saya, sekali lagi saya menemukan kontradiksi dalam Elegi Wawancara Dr. Marsigit Bidang Pendidikan. Itu adalah elgei hebat guru, saya sangat suka! Salah satu filsafat guru adalah Constructivism. Guru mencoba membentuk karakter-karakter filsafat kami sehingga kami memiliki konsep filsafat kami. Tapi mengapa ketika jati diri ini mulai terbentuk, engkau justru menutup kami dengan Behaviourism? Saya benar-benar terhenti guru? Otak saya sekarang mati gaya.

Guru, menurut engkau metode dunia adalah menterjemahkan dan diterjemahkan antara unsur-unsur yang ada dan yang mungkin ada di dalam keseimbangan. Saya ingin meminta ijin sementara ini kata keseimbangan saya tiadakan. Karena banyak hal yang menjadi gejolak dalam hati dan pikiran saya. Tetapi saya baru bisa menggambarkan gejolak tersebut seperti di atas untuk saat ini. Mungkin karena keterbatasaan bahasa analog saya.

Tentang hal yang ada dan yang mungkin ada, dan tentang elegi-elegi guru yang lain. Bukan saya tidak membaca, tetapi saya masih bingung. Saya ingin membalas atau mengomentari semua elegi-elegi itu, tetapi saya mensyaratkan diri saya yaitu, saya ingin mengomentari semua elegi-elegi guru dengan filsafat saya sendiri bukan dengan paksaan. Tolong ijinkan saya guru! Seperti dalam Elegi Permintaan si Murid Cerdas kepada Guru Matematika. Tolong jangan paksa saya guru, saya ingin menjadi ada karena memang saya sedang mengadakan dan bukan karena guru. Saya tidak ingin memaksakan diri saya untuk ada, dengan mengada-kan sesuatu yang tidak keluar dari hati dan pikiran saya, sehingga saya menjadi seorang pengada dengan gelar "munafik". Tidak guru, tidak! Toong jangan paksa saya menjadi seperti mereka.

Guru, saya sangat suka dan sejalan dengan filsafat guru mengenai takdir dan ikhtiar. Guru mengatakan bahwa filsafatku adalah jarak antara takdir dengan waktu. Bolehkah saya mengutarakan apa yang ada dipikiran saya? Saya menggambarkan jarak antara takdir dan waktu sebagai dua buah rel kereta api yang saling berdampingan. Rel-rel itu membuat kereta api lewat disana, terkadang mereka berpapasan terkadang mereka beriringan tetapi kereta-kereta itu tidak akan pernah bertemu. Sama halnya dengan takdir dan ikhtiar. Takdir akan selalu berjalan sesuai dengan kehendak-Nya, tetapi Tuhan tidak serta merta menggenggam erat takdir sesuai permintaanNya. Tuhan juga mengijinkan takdir untuk menjadi bagian dari ikhtiar. Pada saat seperti itu, maka takdir dan ikhtiar akan terlihat sangat kompak sekali, yaitu takdir akan terlihat sebagai hasil dari ikhtiar. Karena hal ini, maka orang-orang di dunia luar sana tidak mempercayai takdir. Mereka hanya percaya bahwa apa yang mereka usahakan, itulah yang mereka dapatkan. Lalu, bagaimana jika takdir menjadi bagian dari ikhtiar? Guru, ternyata orang-orang itu menganggap hal ini sebagai kesalahan atau error dalam ikhtiarnya. Memang mengerikan jika mereka tidak percaya takdir, tetapi guru ada hal positif yang sangat menarik dan dapat ditiru. Dengan mempunyai pikiran tersebut, justru membuat mereka menjadi lebih kuat dan sadar akan kelemahan dan kesalahan mereka sehingga membuat mereka tidak mudah berputus asa dengan harapan dan impian mereka.

Guru, saya justru merasa prihatin dengan saudara-saudara kita di dunia dalam sini. Banyak diantara mereka yang percaya dengan takdir dan ikhtiar, tetapi mereka belum mampu memahami makna jarak diantara mereka. Mereka selalu menggembar-gemborkan tentang berbagai keseriusan ikhtiar mereka dan dengan seketika mereka memasrahkan diri mereka kepada takdir. Jika mereka sukses mereka akan mengklaim bahwa ini karena usaha mereka, tetapi jika mereka gagal mereka akan menyalahkan takdir. Tidak adil bukan? Bisa sajakan hal itu karena ikhtiar mereka yang separuh-separuh atau bahkan ikhtiar mereka terlalu kecil untuk mendapatkan takdir? Guru, bukankah Tuhan berbicara, Aku melihat sejauh apa ikhtiar kalian sehingga Aku bisa mengabulkan doa kalian. Untuk itu guru, bolehkan saya mengharamkan mereka menggunakan kata pasrah jika disisi lain ikhtiar mereka tidak sempurna?

Itu refleksi dari saya guru, semoga tidak ada kemarahan dari dalam hati guru atas kelancangan saya. Maafkan saya yang belum bisa menjadi murid seperti yang guru inginkan.

Pertanyaan:

1. seperti yang guru sampaikan dalam ceramah bahwa "cintamu kepada Sang Khaliq belum selesai kamu tuliskan" Inilah yang menjadikan saya kawatir. Bagaimana jika ketersesatan menimpa, padahal saya sudah mengikuti guru untuk menggunakan hati sebagai komando? dan saat itu terjadi tiba-tiba cinta yang ada luntur. kemana saya mencari tikungan untuk kembali?

2. Pertanyaan-pertanyaan saya yang ada di dalam refleksi saya tolong dijawab Guru.

3. Saya penasaran, dalam berfilsafat guru mengkiblat siapa? Karena saya perhatikan cara guru dalam menuangkan elegi mirip seperti Aristoteles dan Plato, mereka menggambarkan filsafat mereka dengan dialog-dialog.

Thursday, September 20, 2012

Refleksi #1 Kuliah Filsafat : Pencapaian Tertinggi Dalam Menguak Hakekat Filsafat

0 comments


REFLEKSI I - Kuliah Dr. Marsigit:
PENCAPAIAN TERTINGGI DALAM MENGUAK HAKEKAT FILSAFAT

Oleh : Ninda Argafani (12709251053)
 Jadwal kuliah : Kamis, 13-09-2012
Waktu : 13.00 WIB
Kelas : PMat C


Filsafat merupaka hal baru bagi saya. Dari apa yang telah di sampaikan oleh Dr. Marsigit pada perkuliahan minggu lalu, sedikit banyak dapat saya menyimpulkan mengenai pengertian dari filsafat. Jika banyak orang mengartikan filsafat dengan olah pikir, saya cenderung lebih suka mendefinisikan filsafat sebagai reflection science atau ilmu refleksi / perenungan. Jika kita menggunakan olah pikir sebagai definisi filsafat, saya kira hal ini terlalu umum karena semua ilmu pada dasarnya menuntut kita untuk berfikir. Saya sendiri memahami filsafat sebagai ilmu refleksi / perenungan karena filsafat tidak hanya menunut kita untuk berfikir kritis baik itu hal yang berupa penampakan maupun kenyataan, tetapi juga kita diharapkan dapat mengambil sesuatu dari hasil pemikiran tersebut yang dapat kita aplikasikan ke dalam kehidupan kita sehari-hari baik secara individu maupun bermasyarakat dan diharapkan dengan semakin seringnya kita berpikir, semakin seringnya refleksi atau renungan-renungan yang kita lakukan, maka kita akan dapat sampai pada satu tingkatan tertinggi dari hakikat filsafat itu sendiri, yaitu kebijaksaan atau kearifan. Selain itu, saya lebih suka memahami filsafat sebagai ilmu perenungan karena sesuai dengan slogan filsafat, yaitu bahwa filsafat yang hidup karena filsafat memang hidup. Sekaligus karena metode untuk mempelajari filsafat adalah kehidupan, dan karakter kehidupan adalah juga karakter filsafat.
Dalam kehidupan kita selalu menginginkan kejelasan, tidak ada seorangpun di dunia ini yang menginginkan ketidakjelasan. Sama halnya dengan filsafat. Sebagai contoh, rasa kehilangan yang membuat kita tidak bahagia. Kita tidak bahagia berarti sakit. Dalam filsafat, sesuatu yang membuat sakit disebut filsafat. Mengapa? Karena timbul gejolak-gejolak didalamnya, rasa penderitaan dan kesengsaraan. Dari hal-hal tersebut lalu timbullah inisiatif pemikiran yang bermuara pada perenungan. Bagaimana kita bisa keluar dari keadaan ini? Apa saja refleksi yang harus saya lakukan? Dan semua itu dapat dipahami dan dijelaskan baik dengan menggunakan hati maupun pikiran. Salah satu anjuran dari Dr. Masigit, agar saya lebih memahami hakekat filsafat adalah dengan membaca artikel – artikel Elegi beliau, maaf saya sudah membaca artikel Bapak tapi saya belum bisa menjawab perenungan yang bapak berikan karena saya belum paham betul.
Bicara mengenai filsafat tentu tidak lepas dari dimensi karena segala sesuatu itu berdimensi. Kehidupan adalah rangkaian dimensi-demensi fenomena. Dari sini saya teringat dengan komentar / pendapat beberapa orang maupun artikel di internet yang mengatakan bahwa mempelajari filsafat itu sia-sia. Sebelum saya menjelaskan mengapa saya teringat dengan pendapat tersebut, saya tersentuh dengan apa yang kemarin Dr. Marsigit sampaikan. Bahwa filsafat itu datang dari definisi pemikiran tiap-tiap individu dan bahasa analog sebagai tool-nya. Dari sini saya beranggapan, jelas sudah mengapa filsafat begitu diremehkan? Untuk menjawab hal tersebut maka kita kembalikan lagi bahwa pemikiran tiap-tiap individu itu berbeda. Bukan hanya berbeda dari sisi definisi bahkan jangkauan dimensi pemikiran tiap-tiap individu sangatlah berbeda. Terutama jika individu tersebut bukanlah tipe pemikir. Maka akan jelas sekali perbedaan jangkauan dimensinya ketika mereka saling beragurmen. Dan kedudukan bahasa analog sebagai tool juga sangat jelas. Bahasa analog sebagai tool, yaitu untuk membantu mengurai apa yang manusia pikirkan sehingga dapat tersampaikan ke manusia lainya. Tetapi karena jangkauan dimensi pemikiran yang berbeda, terkadang bahkan sering apa yang tersurat tidak dapat mengungkap maksud yang tersirat. Sehingga bahasa analog pun juga belum menjadi tool yang sempurna, karena sebanyak-banyaknya atau sebagu-bagusnya bahasa analog yang manusia miliki ternyata tidak mampu menuliskan / menggambarkn hakekat dari pemikiran manusia itu sendiri.
Perkuliahan minggu lalu adalah pertemuan pertama saya denga filsafat. Dalam penjelasan yang Dr. Marsigit sampaikan mengenai filsafat, ada rasa ketakutan di dalam hati saya. Saya sempat berpikir kalau filsafat itu ilmu yang menyesatkan. Lalu, ketika saya akan  menulis refleksi ini, sebelumnya saya sempat surfing di internet dan ada artikel yang mengutarakan bahwa ada yang berargumen kalau filsafat ilmu yang menyesatkan atau belajar filsafat itu menyesatkan. Dari sini saya sempat kawatir, bagaimana jika saya tersesat? Lalu kembali saya dengarkan rekaman perkuliahan minggu lalu dan saya kaji lagi artikel-artikel yang saya temui sampai pada akhirnya saya sampai pada suatu pemahaman bahwa apa yang disampaikan oleh Dr. Marsigit itu berkorelasi benar. Beliau mengatakan bahwa letakkanlah spiritualitas di atas filsafat. Mengapa? Karena jangkauan dimensi pemikiran manusia adalah jawabannya. Dr. Marsigit pernah membahas mengenai cinta dan filosofinya. Cinta, sampai kapanpun otak manusia tidak akan pernah sanggup untuk menguak misterinya. Dari sana saya beranggapan bahwa selain menggunakan hati kita juga perlu menundukkan hati untuk dapat merenunginya, meskipun dalam perenungan tersebut kita tidak akan pernah bisa menembus hakekat cinta. Tetapi setidaknya dengan menundukkan hati, kita dapat menyederhakan rasa sehingga kita bisa paham apa yang sebenarnya diingikan oleh cinta yang sekarang bercokol dihati kita. Pembahasan lain yang Dr. Marsigit sampaikan adalah ketika ada teman beliau yang bernama Prof. Don seorang ahli matematikawan terkenal Amerika bertanya kepada beliau, Apa hubungan matematika dengan doa? Prof. Don juga mengklaim bahwa dirinya bukan seorang atheis tetapi beliau juga tidak percaya Tuhan. Sangat menggelikan bukan? Lalu Dr. Masigit menjawab bahwa ranah Tuhan itu tidak hanya ada dipikiranmu tetapi juga dihatimu. Prof. Don masih belum mengerti, beliau menjalani kehidupannya hanya berdasarkan pada apa yang dapat beliau jangkau oleh pemikirannya. Sedangkan berbicara mengenai Tuhan akan seperti membahas bilangan irrasional dalam matematika. Tuhan hanya dapat dijangkau menggunakan hati, karena setinggi-tinggi dan secanggih-canggihnya pemikiran manusia tidak akan sanggup menembus ranah Tuhan. Dr. Marsigit juga menjelaskan makna Tuhan dalam bahasa analog yang disebut hati, sedangkan filsafat adalah pikiran. Dari sini saya dapat memahami bahwa filsafat bukan ilmu yang menyesatkan tepati dapat menyesatkan jika kita tidak mempunyai pegangan yang kuat yaitu agama / spiritualitas. Saya juga memahami bahwa filsafat bukan ilmunya yang menyesatkan tetapi manusia mempelajarinya yang telah sesat. Bingung dalam berpikir berarti tanda awal dari ilmu, tapi jangan sampai bingung dalam hatimu atau kacau dalam hatimu karena kekacauan dalam hatimu pertanda syaitan bercokol dalam hatimu. Dr. Marsigi menghimbau bahwa taruhlah spiritualitas ditempat yang paling tinggi dan dalam berfilsafat tetapkanlah hatimu sebagai komandanmu. Saya sangat setuju dengan himbauan untuk menaruh aspek spiritual diatas segala-galanya. Karena kembali lagi ke dimensi, bahwa hati sendiri juga mempunyai dimensi dan jangkauan dimensi hati dari tiap-tiap individu berbeda. Sehingga hal ini juga akan mempengaruhi sesatkah manusianya ataukah filsafatkah yang telah menyesatkan manusia tersebut.

Pertanyaan untuk Dr. Marsigit:
1.      Adakah cinta sejati di dunia ini selain cinta manusia kepada Tuhan Sang Pencipta?
2.      Menurut saya apa yang Bapak sampaikan sangat kontradiksi antara menempatkan spiritual ditempat yang paling tinggi dengan menetapkan hati sebagai komandan dalam berfilsafat. Bagaimana jika yang bercokol di hati manusia saat itu adalah syaitan dan bukan Tuhan? Apa kemungkinan yang akan terjadi?

Monday, September 17, 2012

Renungan #1 : Elegi Menggapai Awal dan Akhir

0 comments
Renungan ini saya tulis sebagai jawaban dari Dosen Filsafat saya, Dr. Masigit dalam blog beliau yang berjudul Elegi Menggapai Awal dan Akhir Kedua.

Sebuah elegi yang luar biasa. Manusia sering kali luput dengan eligi awal dan akhir ini. Bahkan banyak yang menyepelekan. Ah...ada awal pasti ada akhir.

Saya sendiri baru menyadari bahwa selama ini saya hanya melakukan akitifas yang bernama awal dan akhir, tanpa tahu filosofinya. Dan ternyata tidak mudah mencermati dan memahani hakekat awal dan akhir.

Berikut renungan Saya tentang Menggapai Awal dan Akhir

Awal dan akhir ...
Bagi kami anak-anak,
Engkau hanya sebuah permainan dimensi
Kami tidak mengerti dan bahkan tidak tahu kapan awal dan akhir kami
Yang kami tahu adalah ...
Kami sangat menikmati berada diantara kalian
Kami bermain dengan bertemu awal sekaligus akhir pada satu waktu yang sama tanpa kami sadari
Kami juga tidak ambil peduli apakah awal yang kami lakukan merupakan ketetapan dari orang tua kami ataupun dari orang lain
Dan kami pun juga tidak ambil pusing ketika akhir menghampiri kami,
entah akhir itu kami yang membuatnya atau orang lain
Bagi kami kalian adalah saudara kembar yang tidak akan pernah terpisahkan

Ketika kami beranjak dewasa dan sudah mulai berfikir!
Awal dan akhir ...
Kami masih tetap berada dalam lingkaran kalian,
Kami masih sebagai pemain utama ditengah-tengah kalian
Awal dan akhir ...
Namun kali ini sedikit berbeda,
Sedikit banyak kami mempunyai andil untuk mengatur keberadaan kalian
Dan itupun ketika kami dalam keadaan yang paling sadar, sesadar-sadarnya
Awal ...
Engkau begitu lembut menggapai tangan kami
Saat itu juga ketika kami menyambut tangan lembutmu, maka Akhir menjadi sesuatu yang dingin
Dia melepaskan diri seolah kami dan akhir belum pernah bertemu sama sekali
Akhir ...
Engkau memutuskan untuk pergi dan menjauh dari kami
Namun ketika kami memilih untuk tetap bersamamu, maka Awalpun tidak kunjung datang mendekati kami
Dan itupun ketika kami dalam keadaan yang paling sadar, sesadar-sadanya

Awal dan akhir ...
Terkadang kami, orang yang menganggap diri kami dewasa
Kami sangat egois
Kami ingin memiliki kalian
Kami ingin sekali menyatukan kalian
Sehingga ketika kami menggapai salah satu diantara kalian, maka saat itulah kami menggenggam kalian berdua

Awal dan akhir ...
Terkadang kami juga merasa kalau kalian tidak adil dengan kami
Ketika kami terbuai dan sedang bersenang-senang menikmati bermain dengan salah satu diantara kalian,
Tanpa ada tanda dan peraturan yang jelas, kami pun harus mengakhirinya,
Karena masa tenggang kami untuk bermain dengan salah satu diantara sudah habis
Bukan karena kami tidak mau,
Tetapi berilah kami kesempatan untuk menetapkan batas waktu, kapan kami harus bermain dengan kalian
Dan berilah kami sedikit kebebasan untuk memutuskan, kapan kalian harus bergantian menjemput kami
Kami masih ingin bersenang-senang

Awal dan akhir ...
Terkadang kami juga berfikir untuk menunda kedatangan salah satu diantara kalian,
Tetapi dilain pihak kami pun harus menjemput satu diantara kalian
Ironi sekali bukan?
Sekarang kami menyadari,
Ternyata bukan kami yang sedang bermain-main dengan kalian
Tetapi kalianlah yang sedang bermain-main dengan kami
Bahkan kalian mempermainkan kami untuk kesenangan kalian sendiri

Awal dan akhir ...
Sepertinya sudah menjadi tugas kalian untuk mempermainkan kami
Dan itu sudah menjadi ketetapan-Nya
Hanya Dia yang sanggup mengendalikan kalian
Karena hanya Dia yang tidak berawal dan tidak akan pernah berakhir
 

Philoo's Psychoo Addict Copyright © 2012 Design by Ipietoon Blogger Template